Film Semua Akan Baik-Baik Saja Tayang 13 Mei, Siap Bikin Penonton Nangis!

Pemain film Semua Akan Baik-Baik Saja dalam dalam press screening dan press conference di Jakarta Selatan, Rabu (6/5)/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Film karya aktor sekaligus sutradara Baim Wong bertajuk Semua Akan Baik-Baik Saja dijadwalkan tayang pada Rabu, 13 Mei.

Film ini mengisahkan kematian mendadak Mentari (Happy Salma) yang menjadi badai besar bagi keluarganya. Peristiwa itu memaksa tiga bersaudara dengan kehidupan yang saling bertolak belakang kembali tinggal di bawah satu atap.

Langit (Reza Rahadian), pria yang ditempa kerasnya kehidupan jalanan, harus memikul tanggung jawab sebagai pengganti sosok orang tua bagi anak-anak Tari yang ditinggalkan. Namun, kepulangannya disambut dingin oleh Malika (Aquene Djorghi), anak sulung berbakat musik yang menyimpan luka dan ketidakpercayaan.

Selain Malika, Langit juga menghadapi Shaffa (Shaffa Almira) yang sedang berada dalam fase remaja yang rapuh, serta Alim, si bungsu berkebutuhan khusus yang kerap menjadi korban perundungan di sekolah.

Konflik semakin rumit dengan hadirnya Ilham (Teuku Rifnu Wikana), mantan suami Tari, yang memicu persoalan harta dan nilai keluarga. Di tengah situasi tersebut, Langit bersama saudara-saudaranya, Bintang (Raihaanun) yang menyimpan rahasia kelam dan Banyu (Ari Irham) yang terjebak dalam kepalsuan dunia maya, harus belajar meruntuhkan ego masing-masing.

Di bawah kasih sayang Ibu Wida (Christine Hakim), mereka perlahan menyadari bahwa kehilangan justru menjadi jalan untuk saling menemukan kembali. Film ini menegaskan bahwa dalam keluarga, pada akhirnya, segala hal akan baik-baik saja.

Baim Wong menyebut film Semua Akan Baik-Baik Saja sangat personal baginya, karena banyak adegan yang terinspirasi dari kisah nyata bersama almarhum ibunya.

“Film ini sangat berarti buat saya. Karena orang tua saya sudah meninggal. Ada banyak adegan saya dengan mama saya,” kata Baim dalam press screening dan press conference di Jakarta Selatan, Rabu (6/5).

Ia juga menekankan pentingnya kualitas para pemain dalam film ini. Menurutnya, setiap peran memiliki lapisan emosi yang kompleks sehingga membutuhkan aktor-aktor yang tepat.

“Cast-cast harus hebat-hebat. Harus mereka semua yang memerankannya. Karena sulit sekali setiap partnya yang layer-layer saya bilang penting gak penting, semuanya penting. Castnya itu tidak ngasal sama sekali,” jelasnya.

Baim mengungkapkan proses produksi film ini juga berbeda dari kebanyakan film lainnya. Ia lebih banyak mengandalkan diskusi daripada reading formal. Para pemain diajak berdialog untuk mendalami karakter dan bahkan memberikan masukan terhadap skenario.

“Disini jarang sekali ada reading, kita malah ngobrol. Ngobrolnya itu apa yang mau dirubah diskenario. Itu jarang sekali di lakukan sama director. Karena itu adalah menguras tenaga dan cape banget. Karena kita harus mendengarkan satu-satu semuanya. Tapi saya ubah. Karena mereka nyamannya dimana,” ucap Baim.

Sementara itu, Christine Hakim menilai fleksibilitas dalam mengolah naskah menjadi kunci dalam membangun emosi yang kuat di layar. Menurutnya, sebuah skrip sering kali belum terasa utuh saat pertama kali dibaca, dan membutuhkan pendalaman berulang.

“Kalau saya punya waktu sebagai pemain untuk mengubah itu di persiapan, maka saya akan mengubah itu sebelum muncul di set. Apalagi tidak mudah untuk berkolaborasi dengan pemain yang bukan hanya berdua atau bertiga, apalagi menghadapi pemain anak-anak. Jadi kita harus mau tidak mau untuk membuat adegan itu senatural mungkin. Jadi gak bisa hanya bergantung dengan skrip,” pungkasnya.