Gertak Lereng Merapi

Jogja-GPriority.co.id, Paska letusan Gunung Merapi beberapa tahun lalu pemda DIY upayakan pemulihan tanaman kopi di lereng Merapi terus digalakkan baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Kabupaten.

Pemda DIY juga berupaya mewujudkan konsep penghijauan kawasan lereng gunung Merapi. Beragam cara telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, untuk pemulihan tanaman kopi pasca letusan Gunung Merapi, antara lain:

• Perluasan lahan
• Rehabilitasi tanaman
• Pengutuhan/pengembalian tegakan
• Pemeliharaan
• Pemberantasan penyakit tanaman
• Pemberantasan hama
• Pengawalan pasca panen kopi
• Festival kopi merapi (promosi)
• Pelatihan budidaya (panen dan pasca panen).

Baru-baru Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian juga mencanangkan Gerakan Tanam Kopi (Gertak), yang juga telah dilaksanakan di lereng Merapi. Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian budidaya kopi lereng Merapi sebagai komoditas unggulan dan sebagai strategi dalam memperkuat predikat destinasi wisata yang selama ini disandang oleh Merapi. Merapi dengan agroklimat yang subur ditambah kumpulan dari lapukan abu vulkanik, menjadikan kopi Merapi memiliki ciri khas tersendiri. Harapannya, kopi Merapi akan menjadi primadona di DIY hingga nasional.

Sejauh ini kebun terluas yang digunakan sebagai lahan budidaya kopi terletak di lereng Gunung Merapi, meliputi
• Wilayah Kapanewon Turi
• Wilayah Kapanewon Pakem
• Wilayah Kapanewon Cangkringan

Data tahun 2020, total luas lahan perkebunan yang dimanfaatkan untuk budidaya kopi sebesar 253,79 hektar. Jumlah tersebut terdiri dari 217,19 hektar lahan perkebunan kopi Robusta, dan 36,60 hektar untuk kopi Arabika. Sementara itu total luas panen tanaman kopi mencapai 159,94 hektar, meliputi 131,14 hektar luas panen kopi Robusta dan 27,80 hektar luas panen kopi Arabika. Sumber @kabarsleman