Golongan Orang yang Berhak Menerima Daging Kurban

Hari raya Idul Adha 10 Dzulhijah 1442 H semakin dekat, berdasarkan perhitungan kalender Masehi Idul Adha jatuh pada tanggal 20 Juli 2021.

Di tahun ini, MUI (Majelis Ulama Indonesia) menyarankan kepada masyarakatnya untuk melaksanakan Shalat Idul Adha di rumah saja atau ketempat yang bersifat terbatas, karena kasus Covid-19 yang tak kunjung mereda.

Selain melaksanakan shalat Id, umat islam juga dianjurkan untuk melaksanakan ibadah berkurban bagi yang mampu untuk melengkapi amalan ibadah kita di bulan Dzulhijah. Sama halnya dengan pelaksanaan shalat Id, pelaksanaan kurban pun harus dengan protokol kesehatan yang ketat dan usahakan terhindar dari kerumunan.

Waktu penyembelihan kurban sendiri dimulai pada tanggal 10 Dzulhijah sampai matahari tenggelam pada tanggal 13 Dzulhijah. Setelah hewan kurban disembelih, dagingnya dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, lalu siapakah orang-orag yang berhak menerima daging kurban?

1. Orang yang Berkurban dan Keluarga

Hal ini karena Nabi SAW. pernah makan dari daging hewan kurbannya sendiri. Seperti dalam hadis riwayat Imam AlBaihaqi mengatakan;

“Rasulullah SAW. ketika hari Idul Fitri tidak keluar dulu sebelum makan sesuatu. Ketika Idul Adha tidak makan sesuatu hingga beliau kembali ke rumah. Saat kembali, beliau makan hati dari hewan kurbannya.”

Selain itu Nabi Muhammad SAW juga bersabda : “Makanlah oleh kalian, bagikanlah dan simpanlah.” (HR. Bukhori).

Tidak ada ketentuan pasti yang disepakati oleh para ulama mengenai jatah maksimal yang boleh dikonsumsi oleh orang yang berkurban. Namun ulama Hanafiyah dan Hanabilah menganjurkan agar tidak melebihi sepertiga dari daging hewan kurban.

2. Teman, Kerabat, dan Tetangga

Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah dalam kitab Alfiqhul Islami wa Adillatuhu menganjurkan agar sebagian daging hewan kurban dibagikan kepada teman, kerabat dan tetangga sekitar meskipun mereka kaya.

“Dan menghadiahkan sepertiga daging hewan kurban kepada kerabat dan teman-temannya meskipun mereka kaya.”

Selain itu memberikan daging kurban kepada teman atau tetangga yang non-muslim juga diperbolehkan menurut pendapat ulama Hanafiyah dan Hanabiyah. Hal tersebut merupakan betuk kebaikan yang diizinkan sebagaimana umat muslim yang boleh bersedekah kepada non-muslim.

Kemudian sebagian ulama Malikiyah mengatakan hal tersebut hukumnya makruh, kecuali Imam ad-Dasuqi yang membolehkannya jika kepada kafir dzimmi (dalam perlindungan negara Islam). Menurut pendapat Syafi’iyah, hukumnya tidak boleh secara mutlak.

3. Fakir Miskin

Allah SWT memerintahkan untuk memberikan makan kepada orang fakir miskin dari daging hewan kurban, sebagaimana difirmankan dalam dua ayat berikut;

“Makanlah sebagian dari daging kurban dan berikanlah kepada orang fakir.“(Q.S. Al Hajj ayat 28)

“Makanlah sebagian dari daging kurban, dan berikanlah kepada orang fakir yang tidak minta-minta, dan orang fakir yang minta-minta.” (Q.S. Al Hajj ayat 36)

Dalam satu riwayat, dijelaskan bahwa pembagian daging kurban tersebut diserahkan pada keputusan orang yang berkurban, seandainya ia ingin sedekahkan seluruh hasil qurbannya, hal itu diperbolehkan.

Dalilnya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan dia untuk mengurusi unta-unta hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan beliau tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu kepada tukang jagal (sebagai upah).”(Dwi.Foto.Istimewa)

Related posts