Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Sebar hingga Jakarta dan Banten

Jakarta, GPriority.co.id – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dengan serangkaian erupsi yang menyemburkan kolom abu vulkanik hingga ribuan meter, memicu penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta dan imbauan kewaspadaan bagi pelayaran di perairan sekitar.

Aktivitas erupsi tercatat sejak Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) malam, dengan beberapa kali letusan dalam rentang waktu singkat.  Pada salah satu erupsi, kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar 2.000 meter dari kawah, sementara lontaran lava pijar dilaporkan membumbung hingga 400 meter di atas puncak.  Data Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin mencatat sebaran abu vulkanik menyebar hingga ketinggian Flight Level (FL) 480 atau sekitar 14,6 kilometer di atas permukaan laut, bergerak ke arah barat mengikuti angin lapisan atas.

Pada erupsi terbaru yang terekam selama 30 detik dengan amplitudo 46 mm, tinggi kolom erupsi tidak teramati secara pasti, namun aktivitas masih berlangsung dan warga diminta menjauhi radius 3 kilometer dari kawah aktif.  Status Gunung Anak Krakatau tetap Level III (Siaga).

Sebaran abu vulkanik memicu penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Ahad (6/9/2026) mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB.  Berdasarkan data monitoring per 5 September 2026 pukul 22.00 WIB, terdapat 33 penerbangan di Soekarno-Hatta yang terdampak, terdiri atas 16 pembatalan, tujuh penundaan, dan lima penjadwalan kembali pada rute internasional ke Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul/Incheon, Doha, Amsterdam, dan Kuala Lumpur.  Untuk penerbangan domestik, tercatat empat pembatalan dan satu penerbangan yang dialihkan dengan rute dari/ke Lampung (TKG), Denpasar (DPS), dan Surabaya (SUB).

Meski demikian, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan operasional penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta kembali berjalan aman dan normal setelah penutupan sementara, karena hingga saat ini tidak ditemukan abu vulkanik di area bandara.  Berdasarkan ASHTAM Nomor VAWR3739, jarak sebaran abu vulkanik tercatat sekitar 31,4 kilometer dari Bandara Soekarno-Hatta, 18,5 kilometer dari Bandara Pondok Cabe, dan 31,4 kilometer dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Untuk pelayaran, penyeberangan di Pelabuhan Bakauheni–Merak dilaporkan tetap berjalan normal meski dampak abu vulkanik masih berlangsung, dengan jarak pandang yang masih dinilai aman untuk operasional.  Namun, Kemenhub mengimbau seluruh kapal yang melintas di perairan Selat Sunda meningkatkan kewaspadaan dan dilarang mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif selama status Level III (Siaga) masih berlaku.  Abu vulkanik juga terdeteksi menyebar ke wilayah perairan barat Banten, mulai dari Anyer, Serang, hingga Labuan, Pandeglang.

BPBD Bandar Lampung dan sejumlah instansi terkait mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi sebaran debu vulkanik ke wilayah darat, termasuk Jabodetabek dan Jawa Barat.  Berikut sejumlah tips menghadapi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau:

Batasi aktivitas luar ruangan: Kurangi kegiatan di luar rumah selama abu vulkanik masih terlihat atau kualitas udara belum membaik.

Gunakan alat pelindung: Pakai masker (disarankan masker N95 atau minimal masker medis) saat beraktivitas di luar ruangan, serta pelindung mata (kacamata) apabila kondisi udara berdebu.

Lindungi kediaman: Tutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah apabila abu vulkanik mulai masuk untuk mencegah kontaminasi di dalam ruangan.

Jaga kebersihan: Bersihkan abu vulkanik yang menempel di pakaian, kendaraan, dan permukaan rumah dengan cara dibasahi terlebih dahulu agar tidak beterbangan kembali.

Waspada gangguan pernapasan: Masyarakat diminta memakai masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mengantisipasi gangguan pernapasan dari abu vulkanik yang berterbangan di udara.

Otoritas terkait terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dan akan menyesuaikan langkah penanganan seiring perubahan kondisi di lapangan.

Foto : Istimewa