Ibu Kota Nusantara (IKN), GPriority.co.id – Otorita IKN bersama TNI AU, BNPB, BMKG, dan sejumlah mitra terkait memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah delineasi IKN melalui operasi water bombing dari udara dan pemadaman darat yang terkoordinasi.
Pada Sabtu (5/9) operasi water bombing dilaksanakan dalam dua sortie menggunakan helikopter Caracal H225M yang berangkat dari Lanud TNI AU Dhomber, Balikpapan. Sortie pertama menyasar kawasan Bukit Tengkorak, sedangkan sortie kedua melakukan lima kali penyiraman di Jalan Nasional Balikpapan–Samarinda (Balsam) KM 47, empat kali di Tol Balsam KM 49–53, dan satu kali di Wonotirto. Secara keseluruhan, helikopter yang diawaki Kapten Pnb A. Rahmanto dan Lettu Pnb Raga D.P. itu melakukan 15 kali penyiraman di wilayah Bukit Merdeka, Bukit Tengkorak, dan Wonotirto dengan mengambil air dari embung terdekat.
Helikopter H225M Caracal milik Skadron Udara 8 Grup 2 Helikopter dilengkapi water bombing bucket berkapasitas hingga 2.000 liter (2 ton), sehingga efektif menjangkau lokasi yang sulit diakses dari darat. Koopsudnas mengoptimalkan unsur udara TNI AU untuk memperkuat deteksi dini, pemantauan, dan respons cepat terhadap Karhutla di IKN.
Penanganan dari udara berjalan beriringan dengan aksi tim darat yang melibatkan Satuan Reaksi Cepat Multi Pihak Pengendalian Karhutla, terdiri atas Otorita IKN, Kementerian Kehutanan, Pemprov Kalimantan Timur, Polda Kalimantan Timur, Pemkab Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, pemerintah desa/kelurahan, perusahaan, organisasi lingkungan, serta relawan. Kolaborasi lintas sektor ini difokuskan untuk menekan laju api dan melindungi ekosistem di seluruh wilayah delineasi IKN yang terdampak.
Wilayah pengendalian saat ini telah dibagi menjadi tujuh klaster untuk mempercepat respons. Pengawasan pascapemadaman diperketat melalui pemantauan titik panas menggunakan citra satelit secara real-time, dipadukan dengan patroli rutin, penyekatan, dan proses pendinginan lahan guna mencegah kebakaran susulan.
BMKG terus memantau kondisi cuaca dan perkembangan titik api sebagai dasar penentuan langkah penanganan. Komandan Lanud Dhomber Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana, M.Han., menyebut koordinasi dan informasi terkini mengenai titik api menjadi faktor penting meningkatkan efektivitas water bombing. Operasi yang didukung data hotspot BMKG dan petugas Otorita IKN itu ditargetkan berlangsung lima hari, namun pelaksanaannya akan disesuaikan dengan perkembangan di lapangan. Saat ini, kondisi api dilaporkan telah berkurang.
Sebelumnya, pada akhir Agustus, TNI AU juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di IKN dan Kalimantan Timur menggunakan pesawat Casa NC-212 (tail number A-2105) untuk meningkatkan peluang hujan. Sebanyak 800 kilogram natrium klorida (NaCl) disemai pada awan setinggi puncak 8.000–8.500 kaki di wilayah utara dan utara DAS Sepaku Semoi pada ketinggian 8.000 kaki.
Otorita IKN menegaskan pengendalian Karhutla di kawasan IKN dijalankan melalui tiga tahapan terpadu: pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan. Langkah strategis ini telah disiapkan sejak sebelum musim kemarau 2026 dan terus berjalan hingga saat ini.
Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di sekitar wilayah IKN. Otorita IKN bersama seluruh pihak terkait berkomitmen melakukan penanganan cepat dan terukur hingga Karhutla terkendali.
Foto : TNI AU
