Jakarta, GPriority.co.id – Nama pasangan selebritis Ibrahim Risyad dan Salshabilla Adriani belakangan sedang menjadi sorotan netizen. Hal ini bermula dari sebuah video podcast di saluran YouTube milik Debi & Marco yang tayang pada 30 Maret 2025 lalu.
Saat itu, aktor dan model kelahiran Bandung, Jawa Barat tersebut ditanya terkait pandangannya apabila sang istri ingin berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.
Sontak, pria yang akrab disapa Ohim itu dengan lantang mengakui tak setuju apabila istrinya berhenti bekerja, bahkan hanya mengandalkan keuangan dari dirinya saja.
“Wah gue enggak bisa dan enggak kuat. Menurut gue, sebagai suami engga make sense aja (istri hanya mengandalkan financial suami),” kata Ohim.
Melihat pernyataan tersebut, sebenarnya bagaimana islam memandang istri yang tetap memilih untuk mencari nafkah atau menjadi wanita karier?
DIlansir dari laman zeedsharia, dalam Islam, istrinya diperbolehkan bekerja dan tidak dianggap dosa. Kendati demikian, bukan berarti mereka bebas dari batasan. Ketika istri memilih untuk bekerja, justru di sinilah ujian sebenarnya dimulai.
Meski banyak istri yang memiliki niat tulus untuk membantu suami mereka serta meningkatkan sedekah mereka, atau sekadar mengembangkan diri, tetapi karena kurangnya pengetahuan yang memadai tentang Islam, mereka akhirnya bertindak lebih jauh. Bahkan tak sedikit yang melanggar pedoman syariah.
Lalu, bagaimana cara menjadi wanita karier yang tetap memenuhi hukum Islam?
1. Niat yang benar, kunci sukses dalam membangun kesalehan
Sebelum memutuskan untuk tetap berkarier saat sudah menikah, cobalah tanyakan pada diri sendiri perlahan-lahan, “jika tetap bekerja, apa tujuannya?” apakah untuk membantu suami anda, ingin mendapatkan pengalaman, atau sekadar mengikuti tren agar tetap produktif?
Pastikan untuk jujur kepada diri sendiri. Meski niat tampak sederhana, namun niat dapat menentukan arah hidup anda. Jika niat anda bukan karena Allah SWT, saat bekerja hanya akan terasa lelah bahkan tak akan mendapat pahala dan hanya hal negatif lah yang akan hadir.
Selain itu, niat yang benar juga memberi kita perspektif yang lebih jelas tentang kehidupan, apa yang harus diprioritaskan dan apa yang dapat ditunda, apa yang mendekatkan kita kepada Allah dan apa yang secara diam-diam menjauhkan kita. Karena, pada akhirnya niatlah yang menentukan apakah langkah kita menjadi tindakan ibadah yang naik ke surga atau hanya rutinitas duniawi yang berakhir di sana.
Berkaitan dengan niat, Rasulullah SAW telah meningatkan sejak awal :
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.” (HR. Al-Bukari, No. 1).
2. Izin suami, bagaikan tiket resmi untuk kegiatan istri
Dalam Islam, izin suami bukan karena ketidakpercayaan istri, juga bukan karena sifat suami yang otoriter. Justru sebaliknya, karena Allah SWT telah menetapkan suami sebagai qawwam (wali), pelindung, dan orang yang bertanggung jawab atas keluarga.
Tanggung jawab tersebut bukan hanya sekadar menyediakan kebutuhan keluarga atau memastikan keamanan di rumah semata, tetapi juga mencakup melindungi istrinya dari hal-hal yang dapat perlahan-lahan membawanya kepada dosa.
Sebagaimana firman Allah SWT :
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (Q.S. At-Talaq 66:6)/
Ayat tersebut juga mengajarkan bahwa seorang suami memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan keluarganya tidak terjerumus ke dalam dosa, termasuk ke dalam hal-hal yang tampak kecil, seperti istrinya yang meninggalkan rumah tanpa izin dan seringkali dapat menjadi pintu gerbang perselisihan, fitnah, atau pelanggaran hukum Islam jika dibiarkan tanpa pengawasan.
3. Tetap berpakaian sesuai syariat Islam
Bagi wanita karier, hal ini mungkin menjadi salah satu tantangan yang paling berat di tempat kerja yang serba modern seperti saat ini. Terkadang, standar kantor membuat wanita merasa bahwa pakaian longgar dianggap tidak rapi atau jilbab lebar terlihat tidak profesional. Seolah-olah hukum Islam mengharuskan untuk menyesuaikan diri dengan selera mode di tempat kerja.
Perlu diingat, perintah Allah tidak berubah hanya karena manusia menyukainya atau tidak. Allah SWT berfirman :
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak perempuan, dan wanita-wanita mukmin, agar mereka dapat menutupi seluruh tubuh mereka dengan jubah mereka….” (QS. Al-Ahzab : 59).
4. Berinteraksi sesuai kebutuhan dan menjaga batasan dengan rekan kerja
Di kantor, anda pasti akan bertemu orang dari lawan jenis. Hal ini menjadi sesuatu yang wajar. Namun akan menjadi tidak wajar apabila interaksi tersebut terlalu berlebihan. Misalnya saja bercanda terlalu intim, berbagi perasaan melalui obrolan, makan bersama, mengadakan pertemuan bersama di ruang tertutup, atau menumpang pulang dengan rekan kerja pria.
Kita bisa bersikap ramah dan profesional, tetapi ada batasan yang harus dijaga. Jaga jarak, bicaralah hanya jika perlu, dan segera pergi setelah selesai. Ingatlah bahwa terbawa perasaan di tempat kerja merupakan jebakan yang paling halus.
5. Menghindari pekerjaan yang dilarang Islam
Islam benar-benar melindungi kehormatan wanita. Oleh karena itu, pekerjaan yang mengeksploitasi wanita dilarang. Ini bukanlah aturan baru. Nabi Muhammad SAW telah menetapkan batasan yang jelas. Sebagaimana diriwayatkan oleh Rafi’ ibn Rifa’ah, beliau berkata :
“Nabi Muhammad SAW melarang kita melakukan pekerjaan pembantu perempuan (kasb al-amah) kecuali yang dilakukan dengan kedua tangan. Beliau bersabda, “Beginilah cara (dia melakukan) dengan jari-jarinya seperti membuat roti, memintal, atau menenun.” (Hadits Sejarah Ahmad).
Makna hadits tersebut jelas, yang dilarang adalah pekerjaan yang menggunakan wanita sebagai daya tarik, bukan pekerjaan yang mengandalkan keterampilan.
Oleh karena itu, perempuan dilarang bekerja di posisi yang menggunakan kecantikan mereka untuk menarik pelanggan, pekerjaan yang menjual daya tarik feminin, hingga posisi diplomatik yang memanfaatkan daya tarik perempuan untuk negosiasi. Ingatlah, kehormatan seorang wanita terlalu berharga untuk dijual begitu saja.
Inti dari poin-poin tersebut, bekerja bagi wanita yang sudah berumah tangga diperbolehkan. Namun jika suami dan anak-anak anda kurang mendapat perhatian karena hanya sedikit energi yang tersisa, maka ada sesuatu yang perlu dievalusasi.
Pada akhirnya, karier hanyalah bonus sementara kepercayaan adalah inti yang terpenting. Untuk menjadi wanita karier sambil menjalankan rumah tangga hanya dibutuhkan pengetahuan, niat yang benar, dan keberanian untuk menjunjung tinggi prinsip di tengah iklim saat ini. Karier adalah bonus tambahan. Tetapi mandat sebagai istri dan itu adalah esensi kehidupan yang didambakan seorang wanita di surga.
