Kasus Gus Elham, Ustad: Dakwah Harus Meneduhkan, Bukan Menimbulkan Kontroversi

Founder Santri Motivator School, Ustad Asroni Al Paroya/Foto Instagram pribadi Ustad Asroni Al Paroya Founder Santri Motivator School, Ustad Asroni Al Paroya/Foto Instagram pribadi Ustad Asroni Al Paroya

Jakarta, GPriority.co.id – Founder Santri Motivator School, Ustad Asroni Al Paroya, turut menanggapi tindakan pendakwah asal Kediri, Jawa Timur, Mohammad Elham Yahya Luqman atau Gus Elham, yang menuai kecaman publik setelah videonya mencium anak-anak perempuan di atas panggung saat pengajian viral di media sosial.

Menurut Ustad Asroni, persoalan tersebut perlu disikapi dengan kepala dingin, hati jernih, dan adab yang tinggi.

“Terkait kasus Gus Elham, saya memandang bahwa persoalan ini harus kita sikapi dengan kepala dingin, hati jernih, dan adab yang tinggi. Sebagai sesama pendakwah, tentu kita tidak dalam posisi untuk menghakimi, tetapi justru untuk mengambil pelajaran (ʿibrah) agar dakwah kita semua semakin matang, santun, dan meneduhkan,” kata Ustad Asroni kepada GPriority, Kamis (13/11).

Ia menegaskan, dalam dunia dakwah, kata dan sikap seorang mubalig merupakan cermin dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Rasulullah SAW diutus bukan hanya untuk menyampaikan wahyu, tetapi juga untuk menyempurnakan akhlak.

Sebagaimana sabda beliau:

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

“Artinya, seorang pendakwah harus menjadikan adab dan akhlak sebagai ruh dalam setiap dakwahnya. Bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga menyampaikannya dengan cara yang penuh hikmah,” ucap Ustad Asroni.

Ia kemudian mengutip firman Allah SWT:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

“Maka dari itu, seorang dai sejatinya adalah penebar keteduhan, bukan kontroversi; pembawa solusi, bukan provokasi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ustad Asroni menilai langkah Gus Elham yang telah menyampaikan permintaan maaf melalui akun Instagram-nya sebagai tindakan yang patut diapresiasi.

“Tidak semua orang berani mengakui kekeliruan di hadapan publik, dan keberanian untuk meminta maaf adalah tanda kebesaran jiwa,” ucapnya.

Ia pun mengajak semua pihak untuk mendoakan agar Gus Elham semakin bijak, matang, dan lembut dalam menyampaikan dakwahnya ke depan.

Selain itu, Ustad Asroni berharap peristiwa ini menjadi cermin bagi para pendakwah lainnya bahwa tugas utama mereka bukan hanya mengajak orang kepada kebenaran, tetapi juga menjaga kehormatan dakwah dengan lisan dan hati yang bersih.

Sebagaimana pesan ulama terdahulu: 

“Adab qablal ‘ilm, akhlak qablal dakwah.” (Adab harus lebih dahulu sebelum ilmu, akhlak lebih utama sebelum berdakwah.)

“Karena tanpa adab, ilmu bisa melukai: tanpa akhlak, dakwah bisa kehilangan maknanya,” pungkas Ustad Asroni.