Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Perdagangan terus menggenjot penetrasi pasar nontradisional, salah satunya di kawasan Asia Tengah. Baru-baru ini, Kemendag melakukan misi dagang ke Tashkent, Uzbekistan, pada Kamis (23/5) dan mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 11,1 juta atau setara Rp177,7 miliar.
Rangkaian kegiatan misi dagang tersebut mencakup forum bisnis, penjajakan kerja sama dagang (one on one business matching), dan pertemuan dengan pihak terkait di Uzbekistan. Kemendag memfasilitasi 19 pelaku usaha dengan sektor beragam, termasuk produk halal seperti makanan, minuman, kosmetik, perawatan tubuh, dan fashion, produk kopi dan teh, tekstil, produk olahan kelapa, serta produk turunan kelapa sawit.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Didi Sumedi, menyampaikan komitmen Indonesia untuk meningkatkan nilai perdagangan dengan negara-negara mitra potensial, termasuk Uzbekistan.
“Saya berharap misi dagang ini menjadi forum pertama bagi kami di Uzbekistan yang menandai tonggak penting dalam hubungan bilateral antara kedua negara untuk mengeksplorasi kerja sama di sektor perdagangan,” kata Didi dalam keterangan yang diterima, Selasa (28/5).
Didi menjelaskan bahwa kedua negara memiliki kesamaan, termasuk mayoritas penduduknya yang beragama Islam. Uzbekistan, yang secara geografis terletak di kawasan Asia Tengah, memiliki potensi sebagai hub produk Indonesia memasuki pasar Asia Tengah. Di sisi lain, posisi Indonesia yang strategis di Asia Tenggara dapat menjadi hub bagi produk Uzbekistan memasuki pasar ASEAN.
Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Uzbekistan, Sunaryo Kartadinata, menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, neraca perdagangan kedua negara terus menunjukkan tren positif.
“Indonesia berhasil memperkenalkan beragam produk unggulan ke pasar Uzbekistan, mulai dari produk pertanian, seperti kopi, hingga produk manufaktur seperti tekstil dan garmen,” ujar Sunaryo.
Kegiatan misi dagang Indonesia ke Uzbekistan merupakan hasil kerja sama antara Kemendag dengan KBRI Taskent, Uzbekistan, melibatkan instansi pemerintah, kamar dagang dan industri, asosiasi, serta pelaku usaha dari kedua negara.
Pada periode Januari—Maret 2024, total perdagangan Indonesia dan Uzbekistan mencapai USD 35,3 juta, naik 63,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor Indonesia ke Uzbekistan mencapai USD 3,3 juta, sedangkan impor Indonesia dari Uzbekistan mencapai USD 32 juta. Pada 2023, total perdagangan kedua negara mencapai USD 141,1 juta, dengan ekspor Indonesia ke Uzbekistan sebesar USD 16,3 juta dan impor Indonesia dari Uzbekistan sebesar USD 124,7 juta.
Ekspor utama Indonesia ke Uzbekistan pada 2023 meliputi margarin/lemak atau minyak nabati, mesin listrik, ekstrak, esens, dan konsentrat kopi dan teh, serta minyak kelapa dan minyak inti sawit. Produk ekspor potensial Indonesia ke Uzbekistan antara lain minyak sawit, minyak sayur, kendaraan bermotor untuk transportasi, serta minyak kelapa. Sedangkan impor utama Indonesia dari Uzbekistan meliputi pupuk mineral atau kimia, kalium, serta bubur serat.
Foto: Kemendag
