Korea Selatan, GPriority.co.id – Hubungan bilateral Indonesia–Korea Selatan memasuki babak baru setelah Presiden RI, Prabowo Subianto, dan Presiden Republik Korea, Lee Jae Myung, sepakat memperluas kemitraan strategis komprehensif di berbagai sektor prioritas.
Dilansir dari laman Sekretariat Presiden RI pada Kamis (2/4), kesepakatan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra utama Korea Selatan di kawasan, sekaligus memperkuat kerja sama di bidang ekonomi, energi, pertahanan, dan teknologi.
Dalam pernyataannya, Presiden Lee menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi yang sangat istimewa bagi Korea Selatan. Ia menyebut Indonesia sebagai satu-satunya mitra pada tingkat tertinggi dalam hubungan bilateral negaranya. Hal ini menunjukkan komitmen kuat kedua negara dalam membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan.
Presiden Lee juga menekankan pentingnya peran Indonesia dalam menjaga stabilitas global, khususnya di sektor energi. Ia menyatakan bahwa Indonesia merupakan mitra kunci dalam ketahanan energi dunia. Pernyataan tersebut sejalan dengan kondisi global yang menghadapi ketidakpastian pasokan energi, sehingga kerja sama Indonesia–Korea Selatan menjadi semakin strategis.
“Kami sangat yakin mengetahui bahwa Indonesia menyediakan LNG dan batubara secara sangat stabil kepada Korea,” ungkap Presiden Lee.
Sementara itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa hubungan kedua negara memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Ia menyampaikan bahwa kunjungan kenegaraan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kemitraan komprehensif di berbagai bidang. Dalam pernyataannya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya kolaborasi konkret yang memberikan manfaat langsung bagi kedua negara.
“Kita berdua adalah negara di Pasifik. Kita berdua adalah negara perdagangan. Kita membutuhkan hubungan yang baik untuk kesejahteraan ekonomi kedua negara kita, dan mungkin kita memiliki peran yang saling melengkapi,” ujar Prabowo.
Sebagai bentuk nyata penguatan kerja sama, Presiden Prabowo turut menyaksikan pertukaran sebanyak 10 nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia dan Korea Selatan. Kesepakatan tersebut mencakup berbagai sektor strategis seperti energi terbarukan, investasi, teknologi, hingga pengembangan industri masa depan. Langkah ini mempertegas arah hubungan bilateral yang tidak hanya bersifat diplomatis, tetapi juga implementatif dan berorientasi hasil.
Dalam konteks yang lebih luas, kedua pemimpin sepakat bahwa kemitraan Indonesia–Korea Selatan akan difokuskan pada penguatan rantai pasok global, pengembangan industri hijau, serta transformasi digital. Kolaborasi ini juga mencakup sektor pertahanan, termasuk pengembangan teknologi militer dan industri strategis.
Presiden Lee menambahkan bahwa peningkatan kemitraan ini menandai dimulainya era baru hubungan kedua negara. Ia menekankan bahwa kerja sama ini akan memperluas kolaborasi di berbagai bidang strategis, mulai dari pertahanan hingga ekonomi digital.
Selain itu, kedua negara juga melihat peluang besar dalam pengembangan energi bersih dan keberlanjutan. Indonesia, sebagai salah satu pemasok energi utama dunia, memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan energi Korea Selatan. Di sisi lain, Korea Selatan menawarkan keunggulan dalam teknologi dan inovasi yang dapat mendukung transformasi industri di Indonesia.
Kerja sama ini juga diperkuat oleh kesamaan visi kedua negara dalam menjaga stabilitas kawasan dan dunia. Indonesia dan Korea Selatan berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam menciptakan perdamaian, keamanan, serta pertumbuhan ekonomi global yang inklusif.
Dengan berbagai kesepakatan yang telah dicapai, kemitraan Indonesia–Korea Selatan diproyeksikan akan semakin kuat dan strategis di masa depan. Hubungan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi kedua negara, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas dan kesejahteraan kawasan Indo-Pasifik.
