Kemungkinan dan Ketidakmungkinan Pameran Manifesto ke VII Digelar Secara Daring

Pameran MANIFESTO merupakan pameran lukisan yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia (GNI) di tahun 2008 dalam rangka menyambut peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional.

Untuk tahun ini Galeri Nasional Indonesia bekerjasama dengan para kurator seni selaku penyelenggara menggelarnya dengan cara yang berbeda yakni daring atau online melalui laman https://galnasonline.id/.

“ Dibanding keenam Pameran Manifesto sebelumnya, proyek kurasi Manifesto VII kali ini disuguhkan secara berbeda. Bukan hanya format karya yang tak biasa yaitu ekspresi karya seni rupa dengan durasi waktu, tapi juga bentuk penyelenggaraan kegiatannya yang dilakukan secara daring ,” jelas salah satu kurator pameran Rizki A. Zaelani saat menjadi pembicara di acara Bicara RUPA Gagasan Kuratorial Manifesto VII “PANDEMI” Tentang Kemungkinan & Ketidak-mungkinannya yang digelar oleh GNI melalui zoom pada Sabtu (10/10/2020).

Rizki sendiri mengatakan jika format daring yang dibuat oleh kurator ini sebenarnya tidak begitu cocok dengan kegiatan seni rupa, karena kesenian itu mempertemukan bukan membatasi, namun karena Pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia termasuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), terpaksa kami tim kurator bersama GNI menggelarnya secara daring.

Andang Iskandar Ketua Lembaga Sertifikasi Indonesia sekaligus perancang virtual mengatakan, sebagai orang yang berada di belakang layar galnasonline.id, dirinya merasa tertantang untuk menyuguhkan pameran Manifesto ke VII menjadi sebuah pameran daring yang dapat menarik pengunjung. “ Untuk itulah kami bersama tim kurator dan rekan-rekan di GNI terus berupaya mencari ide yang menarik termasuk melakukan riset baik melalui peserta maupun pengunjung,” jelas Andang.

Andang juga mengatakan bahwa pameran yang digelar secara daring ini di satu sisi lebih menguntungkan para pengunjung, pasalnya mereka bisa melihat pameran manifesto yang diikuti 217 karya yang dibuat dalam bentuk video tanpa takut terpapar Covid-19.” Selain itu mereka bisa mengakses karya-karya tersebut kapan saja dan dimana saja,” jelas Andang.

I Wayan Seriyoga Parta Dosen Universitas Negeri Gorontalo sekaligus kurator lukisan mengatakan sebenarnya pameran daring ini sebetulnya kurang diminati oleh user atau pengunjung. Hal ini bisa terlihat dari jumlah pengunjung yang hadir dari acara-acara virtual yang digelar. “ Namun karena pandemi, mau tidak mau kurator tetap menggelarnya melalui daring,” jelas I Wayan.

Meskipun digelar secara daring, Manifesto VII dibuat semenarik mungkin, salah satunya penyajian data mengenai lukisan yang dibuat secara detail dan lengkap.” Data seperti ini tidak akan ditemui di pameran offline,” jelas Wayan.

Wayan berharap pameran Manifesto daring yang tengah berlangsung ini sama diminatinya seperti pameran seni yang digelar secara offline.(Hs.Foto.dok.Galnas)

Related posts