Jakarta, GPriority.co.id – Kepala BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) Arif Satria menyoroti minimnya dana riset bagi para peneliti di tanah air.
Ditemui seusai acara serah terima jabatan (sertijab) dari Kepala BRIN periode sebelumnya, Laksana Tri Handoko pada Selasa (11/11), Arif menyebut, dana riset peneliti berasal dari 3 sumber, salah satunya Danantara.
“Karena untuk riset, kita memang mau tidak mau ya butuh dana besar. Di negara mana pun sama saja. Kalau ingin riset, mau tidak mau pendanaan menjadi faktor yang sangat penting,” ujarnya.
Selain Danantara, 2 sumber dana riset peneliti berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang menjadi sumber utama, serta sumbangan dari lembaga internasional.
Menurut laporan dari BRIN sebelumnya, anggaran lembaga ini di tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp5,84 triliun sebelum akhirnya ‘disunat’ menjadi Rp1,42 triliun usai kebijakan efisiensi diberlakukan pada awal tahun.
Sementara, di tahun 2026 alokasi dana APBN untuk BRIN sebesar Rp6,144,6 triliun. Namun angka tersebut lebih kecil dibandingkan anggaran pada tahun 2024 sebesar Rp6,3 triliun.
Lebih lanjut Arif menyebut, ke depannya, arah riset akan berfokus untuk memperkuat pengembangan riset pangan serta energi melalui pendekatan nanoteknologi. Adapun hal ini sebutnya, sesuai dengan arahan dari Presiden Prabowo Subianto guna menjaga ketahanan pangan nasional di tanah air.
“Riset pangan dan energi yang harus diperkuat. Pendekatannya bisa melalui nanoteknologi, AI, dan genomiknya,” sebut Arif.
Dalam kesempatan yang sama, Arif mengatakan dirinya akan mengumpulkan masukan serta evaluasi dari para pegawai dan periset BRIN dalam dua bulan ke depan. Dokumen serta rencana strategis (renstra) juga akan dikembangkannya dalam waktu dua bulan guna meningkatkan kemajuan riset di Indonesia.
