Kolaborasi Garuda Indonesia Dengan Pokemon Jepang Dikritik DPR RI

Kolaborasi Garuda Indonesia Dengan Pokemon Jepang Dikritik DPR RI Kolaborasi Garuda Indonesia Dengan Pokemon Jepang Dikritik DPR RI

Jakarta, GPriority.co.id – Kolaborasi Garuda Indonesia dengan The Pokemon Company, menuai kekhawatiran dan kritik dari Tom Liwafa, anggota DPR RI.

Dalam video TikTok yang diunggah partainya, Tom menyuarakan kekhawatirannya atas maskapai pelat merah yang menggandeng merek Jepang alih-alih mengangkat kekayaan budaya Indonesia.

Ia pun tak sungkan untuk menggarap desain baru “Pikachu Jet GA-1″—Boeing 737-800 NG dengan motif Pikachu dan batik.

“Kok bisa menggunakan Pokémon, dan berbatik pula, ini kan miris ya menurut saya,” ungkapnya.

Menurut Tom, fokusnya seharusnya pada promosi ikon budaya lokal seperti Labuan Bajo, Bali, dan Candi Prambanan untuk mendongkrak pariwisata lokal.

“Yang memprihatinkan adalah bagaimana kemudian maskapai penerbangan yang kita banggakan yaitu Garuda malah kemudian kolaborasi sama Pokémon,” ujar Tom.

Sebagai informasi, Garuda Indonesia baru-baru ini meluncurkan livery tematik “Pikachu Jet GA-1” yang bertujuan untuk menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara, khususnya penggemar Pokemon, untuk menjelajahi berbagai destinasi di Indonesia.

Garuda Indonesia Harus Prioritaskan Budaya Lokal

Lebih lanjut Tom mengungkapkan, Garuda Indonesia sebagai perusahaan BUMN seharusnya lebih memprioritaskan pengenalan budaya lokal melalui karya dan tokoh IP asli Indonesia.

Tom menyebut beberapa karakter seperti Gatotkaca, Gundala, Si Unyil, dan Haidudu yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Lebih lanjut, Tom meminta Kementerian Pariwisata untuk mengevaluasi kebijakan serupa di masa mendatang agar lebih selaras dengan upaya pengembangan destinasi wisata nasional.

“Bentuk kecintaan terhadap tanah air adalah ketika kita selalu memperjuangkan destinasi wisata dan intellectual property lokal. Kami percaya ke depannya kolaborasi maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia akan bisa menggandeng pariwisata atau intellectual property lokal,” kata Tom.

Foto : ANTARA