Jakarta, GPriority.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengungkap temuan spesies flora baru Indonesia yang dinilai memperkuat upaya konservasi sekaligus memperkaya data biodiversitas nasional.
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di dunia dengan banyak spesies yang belum terdokumentasi secara ilmiah.
Melalui acara “BRIN Goes to Stakeholders and Society: Exposing New Species-Flora” yang berlangsung pada Senin (25/5) di BRIN M.H. Thamrin, berbagai spesies flora baru yang berhasil diidentifikasi berasal dari beragam kelompok tumbuhan, mulai dari anggrek, begonia, nepenthes, hingga rhododendron yang ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia.
Penelitian dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga riset dan perguruan tinggi dalam maupun luar negeri.
Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Arif Nurkanto, menegaskan bahwa dokumentasi spesies baru menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem Indonesia.
“Dengan memahami dan mendokumentasikan spesies yang ada, langkah-langkah konservasi yang lebih efektif dapat dirancang, seperti rehabilitasi dan peningkatan populasi spesies yang terancam punah,” ujarnya dalam keterangan resmi.
BRIN menjelaskan proses identifikasi spesies baru membutuhkan tahapan panjang, mulai dari eksplorasi lapangan di kawasan hutan terpencil, pengumpulan spesimen, analisis morfologi dan molekuler, hingga publikasi pada jurnal ilmiah internasional.
Adapun tahapan tersebut diperlukan agar penemuan memperoleh pengakuan ilmiah global.
Sepanjang 2025 hingga awal 2026, para peneliti BRIN dilaporkan berhasil mendeskripsikan puluhan spesies baru flora dan fauna.
Sebagian besar spesimen berasal dari wilayah endemik Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan kawasan Wallacea yang dikenal memiliki tingkat biodiversitas tinggi.
Peneliti BRIN, Aninda Retno Utami Wibowo, juga menyoroti pentingnya eksplorasi lapangan dan penguatan koleksi herbarium untuk memperkaya basis data flora nasional.
“Indonesia, khususnya kawasan Wallacea dan wilayah timur Indonesia, masih menyimpan banyak potensi keanekaragaman anggrek yang belum terdokumentasi,” katanya.
Penemuan flora baru ini dinilai bukan hanya penting bagi dunia akademik, tetapi juga memiliki dampak strategis terhadap kebijakan lingkungan dan konservasi nasional.
Dengan data biodiversitas yang semakin lengkap, pemerintah dan peneliti dapat merancang strategi perlindungan spesies langka secara lebih terukur.
