Lawan Isu Boikot, Adidas Rilis Gamis Sepak Bola Jelang Ramadhan 2025

Lawan Isu Boikot, Adidas Rilis Gamis Sepak Bola Jelang Ramadhan 2025 Lawan Isu Boikot, Adidas Rilis Gamis Sepak Bola Jelang Ramadhan 2025

Jakarta, GPriority.co.id – Brand pakaian Adidas menjadi satu diantara deretan brand luar negeri lainnya yang terkena isu boikot.

Namun belum lama ini pihak Adidas melawan isu boikot tersebut, usai merilis gamis sepak bola jelang Ramadhan 2025.

Adidas yang berasal dari Jerman, berkolaborasi dengan desainer muslim asal Prancis, Emile-Samory Fofana, dalam menciptakan gamis sepak bola tersebut.

Adidas mengklaim, gamis sepak bola ini merupakan perpaduan yang inovatif antara pakaian olahraga dengan busana muslim.

Uniknya, gamis sepak bola ini dirancang multifungsi dengan menggunakan bahan yang ringan dan diklaim cocok untuk segala aktivitas.

Baik untuk beribadah maupun berolahraga, gamis ini sangat cocok digunakan. Dengan warna putih dan aksen garis tiga berwarna emas khas Adidas, gamis sepak bola tersebut siap meramaikan pasar pakaian muslim pada Ramadhan 2025 nanti.

Adidas dan Emile-Samory Fofana telah berkolaborasi untuk membuat gamis sepak bola ini pada Juni 2024 lalu.

Kendati demikian, gamis sepak bola ini baru akan dipasarkan pada Februari 2025 mendatang.

Untuk mendapatkan gamis sepak bola Adidas, akan dilakukan sistem undian melalui aplikasi Adidas CONFIRMED.

Adidas dan Isu Boikotnya

Sebelumnya, Adidas menjadi salah satu brand pakaian yang diboikot besar-besaran karena memutus kontrak Bella Hadid, usai model tersebut mengunggah iklan kampanye pro-Palestina.

Disamping itu, Adidas diklaim sebagai brand yang mendukung Israel karena menggunakan manufaktur Delta Galil yang berasal dari Israel, untuk memproduksi produk pakaian dalam.

Kehadiran gamis sepak bola Adidas ini pun langsung memunculkan pro-kotra sejak awal perilisannya.

Produk ini dianggap sebagai taktik Adidas untuk mencari simpatik umat Islam.

Meski gamis sepak bola ini menjadi pakaian inovatif juga dari brand ternama, banyak yang menyatakan ketidak tertarikannya kepada produk tersebut, karena isu boikot yang telah mencuat sebelumnya.

Foto : X/@emilesamory