Majukan Bisnis Fintech, Kominfo Ajak Semua Pihak Bekerja Sama

Industri financial technology (fintech) khususnya peer-to-peer lending tetap meningkat baik dari sisi pendanaan maupun penyaluran dana di saat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan Level 4 yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat guna menekan laju Covid-19.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate, inovasi teknologi yang dilakukan oleh fintech menjadi kuncinya. Mengutip studi yang dilakukan oleh Bank Dunia pada tahun 2020, Menteri Johnny saat memberikan Keynote Speaker dalam Webinar “Mewaspadai Jeratan Pinjaman Online Ilegal” dari Jakarta, Kamis (19/08/2021).menyatakan pertumbuhan volume transaksi sebesar 11% dan jumlah transaksi sebesar 13% pada perusahaan fintech global secara agregat.“Bank Dunia juga mencatat bahwa pertumbuhan volume transaksi ini tidak merata pada semua jenis fintech,” ungkapnya.

Beberapa jenis perusahaan fintech mengalami pertumbuhan, seperti digital custody meningkat 36% dan digital payment meningkat 26%, namun peer-to-peer lending fintech mengalami penurunan transaksi hingga 8%.“Hal ini juga sejalan dengan tren peningkatan tunggakan hutang yang meningkat hingga 9% dan kasus keterlambatan pembayaran yang meningkat hingga 14%,” tutur Menkominfo Johnny.

Situasi di Indonesia justru memperlihatkan kondisi sebaliknya, di mana industri peer-to-peer lending fintech di Indonesia tetap meningkat baik dari sisi pendanaan maupun penyaluran dana.“Pada Juli 2021, Otoritas Jasa Keuangan mencatat bahwa terdapat 121 penyelenggara peer-to-peer lending fintech di Indonesia. Distribusi pinjaman yang diberikan sampai dengan Juni 2021 juga sudah menjangkau 25,3 juta masyarakat dengan total penyaluran dana sebesar Rp14,793 triliun,” jelas Menteri Johnny.

Menkominfo menyatakan angka itu meningkat dari kondisi pada Januari 2021 lalu, jasa peer-to-peer lending fintech baru menjangkau 24,7 juta masyarakat dan menyalurkan Rp9,38 triliun pinjaman. 

“Jadi ada peningkatan yang signifikan walaupun proporsinya belum sebesar traditional banking lending,” tegasnya.

Mengutip hasil riset Asosisasi Financial Technology Indonesia (AFTECH) pada tahun 2020 lalu, Menteri Johnny menyatakan kemajuan peer-to-peer lending fintech dapat didukung oleh pengembangan teknologi.“Seperti infrastruktur cloud, sistem electronic Know Your Customer (e-KYC), hingga fraud database. Kesemuanya merupakan langkah penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap industri peer-to-peer lending fintech, termasuk dari ancaman penyedia pinjaman online tanpa izin di Indonesia atau ilegal,” ungkapnya.

Meski dinilai maju, Menkominfo Johnny menegaskan bahwa semua pihak harus terus memberikan dukungan. Caranya dengan terus meningkatkan kerja sama. “ Ya, kerja sama ini penting untuk lebih meningkatkan lagi bisnis Fintech di masa depan. Kominfo sendiri telah melakukan kerja sama dengan berbagai bisnis Fintech. Adapun kerja sama yang dilakukan adalah menyediakan teknologi internet berkecepatan tinggi sehingga aplikasi yang dikeluarkan Fintech bisa diakses di mana saja,” tutur Menkomiinfo Johnny.

Terkait dengan maraknya penipuan uang di dunia siber, Menkominfo Johnny meminta masyarakat untuk waspada., mengingat tidak semua Fintech terdaftar dalam OJK. “ ini yang sulit dikontrol, karena mereka tidak terdaftar di OJK, namun jika sampai kami menemukan perusahaan Fintech tersebut maka kami langsung melaporkannya ke Cybercrime. Ini semua dilakukan demi  kenyamanan dan keamanan masyarakat dalam bertransaksi,”  tutup Menteri Johnny.(Hs.Foto.Humas Kominfo)

 

 

 

Related posts