Media Asing Kembali Soroti Pemerintahan Prabowo, Indonesia Disebut Akan Bangkrut

Ilustrasi surat kabar Belanda De Volkskrant, yang menyoroti perekonomian Indonesia di era pemerintahan Prabowo/Foto : Dok. Istimewa Ilustrasi surat kabar Belanda De Volkskrant, yang menyoroti perekonomian Indonesia di era pemerintahan Prabowo/Foto : Dok. Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Kondisi ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan dua media asing, yakni surat kabar Belanda De Volkskrant dan media Australia The Australian.

Keduanya mengangkat sejumlah kekhawatiran terkait arah kebijakan ekonomi, pelemahan nilai tukar rupiah, pergerakan pasar saham, tekanan fiskal, serta kebutuhan anggaran besar untuk membiayai berbagai program pemerintah.

Dilansir dari postingan Instagram @nowdots pada Rabu (5/8), De Volkskrant menerbitkan artikel berjudul Is Indonesia on the Way to Bankruptcy? atau “Apakah Indonesia Menuju Kebangkrutan?”. Sementara itu, The Australian mengangkat laporan bertajuk How Prabowonomics’ Spell Was Broken yang membahas perubahan persepsi terhadap kebijakan ekonomi Presiden Prabowo.

Pemberitaan tersebut ramai diperbincangkan setelah terjemahan artikel De Volkskrant dibagikan oleh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Berly Martawardaya. Meski demikian, judul artikel media Belanda itu berbentuk pertanyaan sehingga tidak dapat dimaknai sebagai kesimpulan bahwa Indonesia telah bangkrut atau dipastikan akan mengalami kebangkrutan.

Sorotan media asing tersebut muncul di tengah perhatian terhadap sejumlah indikator ekonomi nasional, termasuk pergerakan rupiah dan pasar saham. Selain itu, tekanan terhadap ruang fiskal juga menjadi perhatian karena pemerintah menjalankan berbagai program yang membutuhkan dukungan anggaran besar.

Dalam konteks pemberitaan tersebut, Presiden Prabowo sebelumnya menanggapi berbagai narasi pesimistis mengenai kondisi Indonesia. Saat berpidato dalam peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Prabowo menyebut ada pihak yang terus memprediksi Indonesia akan mengalami krisis atau kolaps.

“Jadi saudara-saudara kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps, bulan April akan kolaps, eh April lewat nggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps, bulan Mei lewat nggak kolaps. Bulan Juni akan kolaps, bulan Juli akan kolaps, tiap bulan akan kolaps,” kata Prabowo.

Dalam pidato yang sama, Prabowo juga menggunakan istilah “londo ireng” untuk menyebut pihak-pihak yang menurutnya lebih memilih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain. Ia mengaitkan istilah tersebut dengan sejumlah kalangan, termasuk wartawan, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Istilah “londo ireng” secara historis merujuk pada pribumi yang dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda.

“Itu yang dulu kita sebut londo ireng, ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM,” ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan dan mendapat respons dari sejumlah organisasi pers. Namun, pemerintah meminta publik melihat pidato Presiden secara utuh dan menempatkan pernyataan tersebut dalam konteks ajakan menjaga optimisme nasional.

Sorotan media asing terhadap ekonomi Indonesia pun menjadi pengingat bahwa kebijakan pemerintah, stabilitas fiskal, nilai tukar rupiah, dan kepercayaan pasar akan terus menjadi perhatian, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.