Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso memastikan konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah berpotensi mengganggu aktivitas ekspor dan impor dalam perdagangan global.
Menurut Budi, krisis geopolitik biasanya akan mengubah peta perdagangan dunia karena terganggunya rantai pasok global (global supply chain). Kondisi ini dapat menyebabkan sejumlah negara mengalami hambatan dalam kegiatan ekspor maupun impor.
“Kalau krisis geopolitik itu biasanya nanti akan mengubah peta perdagangan. Nah, ketika global supply chain-nya terganggu, ini secara global kan pasti ada yang ekspornya terhambat, termasuk juga impornya terhambat ya,” kata Budi kepada wartawan di Kantor Kemendag, Kamis (5/3).
Dia menilai situasi tersebut dapat membuka peluang baru bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan pasar di sejumlah negara yang sebelumnya dipasok oleh negara lain.
Menurutnya, pemerintah akan memanfaatkan peluang tersebut dengan tetap melakukan kajian secara cermat terhadap negara tujuan ekspor agar tidak terdampak besar oleh konflik geopolitik.
“Jadi sebenarnya memang justru ada celah ya, celah yang kosong ketika sebuah pasar di negara lain itu tidak disuplai oleh negara lain, pemasoknya selama ini berarti kan kosong. Nah, kita ingin memanfaatkan itu,” tuturnya.
Budi menjelaskan, salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk masuk ke pasar-pasar tersebut.
Ia menilai UMKM relatif lebih fleksibel dalam mencari pasar ekspor baru, terutama untuk jangka pendek.
Karena itu, program business matching yang melibatkan pelaku UMKM kini diarahkan ke negara-negara yang berpotensi mengalami kekosongan pasokan.
“UMKM itu biasanya lebih mudah karena banyak yang baru memulai ekspor, sehingga bisa cepat mencari pasar yang bisa dimasuki,” ucapnya.
