Mengenal Gayo Luwes, Kabupaten Berjuluk Negeri Di Atas Awan

Gayo Lues merupakan satu dari 23 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Aceh. Gayo Lues sendiri merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tenggara pada April 2002 silam.

Kabupaten ini terletak di dataran tinggi Provinsi Aceh. Wilayahnya yang berada di ketinggian 500 – 2.000 meter di atas permukaan laut (m dpl), dikelilingi hutan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), hutan terluas di Asia Tenggara dengan beragam flora dan fauna.

Di sekeliling Kabupaten Seribu Bukit ini, terdapat hutan yang luasnya mencapai 554,991 hektar, terdiri hutan lindung, Taman Nasional Gunung Leuser, hingga hutan produksi.

Memiliki bentang alamnya yang indah, menjadikan daya tarik tersendiri tempat tersebut bagi wisatawan yang datang, baik lokal maupun mancanegara. Bahkan, tidak sedikit pula para peneliti dan ilmuwan yang mendatangi Kabupaten yang berjuluk Negeri Diatas Awan ini.

Kendati demikian, daerah ini termasuk salah satu kabupaten yang terisolir di Provinsi Aceh.

Berkunjung ke Gayo Lues, pengunjung akan disuguhi pemandangan perbukitan yang berlapis – lapis yang masuk dalam gugusan bukit barisan dengan bentangan hutan. Pemandangan tersebut dapat dilihat di sepanjang jalan penghubung dari Kabupaten Aceh Tengah atau dari Kabupaten Aceh Tenggara.

Pemandangan hutan alami, semakin terlihat indah yang berpadu dengan aliran air sungai yang berliku, sejuk, dan bersih. Gayo Lues merupakan hulu dari tiga daerah aliran sungai (DAS) terpanjang di Aceh, yaitu DAS Alas-Singkil, DAS Tamiang, dan DAS Tripa. Aliran sungai ini menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan yang menyukai wisata sungai dan arung jeram.

Dari sisi kesenian, Gayo Lues memiliki kesenian tari yang khas, yakni Tari Saman. Bahkan tarian ini pada Desember 2012 telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO di Bali.

Dilansir dari Mongbay.co.id, Sekretaris Forum Masyarakat Uten Leuser (FMUL), Mashuri Ardiansyah, forum berbagai pihak yang dibentuk untuk menjaga hutan Gayo Lues menyebutkan, kabupaten ini terus mengembangkan ekowisata. Khususnya, hutan dan sungai untuk menambah kunjungan wisatawan.

“Pemerintah Gayo Lues berupaya menyediakan fasilitas untuk mendukung ekowisata. Harapannya, akan menambah pendapatan masyarakat,” terangnya.

Mashuri menyebutkan, untuk menjaga hutan tidak rusak atau dirambah, pemerintah dibantu sejumlah pihak terus meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mengembangkan sektor perkebunan rakyat. Contohnya, kembali menggalakkan tanaman kopi.

“Kopi sangat bergantung hutan. Andai hutan rusak, kualitasnya menurun. Dengan sendirinya, masyarakat menjaga hutan agar kopi tumbuh dan menghasilkan biji bermutu.”

Selain itu, sambung Mashuri, hutan Gayo Lues juga sedang dikembangkan menjadi objek ekowisata. Diantaranya dengan memfasilitasi areal kemping, trekking, mountaineering, dan climbing.

“Selain kepentingan ekonomi, upaya pelestarian lingkungan dilakukan demi terciptanya keseimbangan ekosistem. Juga, terjaganya habitat satwa liar dilindungi seperti harimau, orangutan, gajah, rusa, beruang, burung, hingga serangga, serta terpeliharanya debit air permukaan maupun air bawah tanah,” tutupnya.(Zul)

 

Related posts