Ummahatul mukminin atau yang kita ketahui perempuan-perempuan yang telah dipilih Allah untuk dijadikan sebagai istri Rasulullah saw. mereka itu telah diangkat derajatnya oleh Allah swt. sehingga disebut dengan ibu-ibu kaum mukminin yang harus dihormati oleh segenap kaum muslimin, bahkan diharamkan untuk menikahinya sesudah Rasulullah wafat, sebagai suatu penghormatan bagi Rasulullah saw., sebagaimana dalam firman Allah pada Surah Al-Ahzab (33) : 6,
ٱلنَّبِىُّ أَوْلَىٰ بِٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمْ
Artinya : “Nabi itu layak (dicintai) oleh orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu bagi kaum mukminin.”
Imam al-Qurthubi dalam kitab Tafsir ayat-ayat Ahkam memberikan ulasannya: “Allah swt. memuliakan istri-istri Nabi saw. dengan menjadikan mereka sebagai ‘ibu-ibu kaum mukminin.’ Maksudnya, mereka harus dihormati dan ditaati, diagungkan dan tak boleh dinikahi. Jadi, itu semua selain sebagai penghormatan terhadap Rasulullah saw., juga sebagai pemuliaan terhadap mereka.”
Berikut ini penjelasan singkat tentang istri-istri Rasulullah:
1.Khadijah binti Khuwailid r.a.
Khadijah merupakan istri pertama Rasulullah saw. yang dinikahi sebelum beliau diangkat menjadi seorang Nabi. Ketika itu, umur Nabi baru 25 tahun, sementara Khadijah sudah berusia 40 tahun dan menjanda dua kali, dari mendiang Abu Halah bin Zurarah dan ‘Atiq bin ‘Aidz.
2.Saudah binti Zam’ah r.a.
Saudah dinikahi oleh Rasulullah saw. sepeninggal Khadijah. Beliau adalah janda dari Sakran bin Amru al-Anshari. Adapun hikmah dipilihnya Saudah sebagai istri, padahal umurnya jauh lebih tua dari umur Nabi saw., adalah karena beliau termasuk perempuan mukminah yang turut hijrah. Suaminya meninggal dunia sepulang Saudah dari hijrah kedua ke Habasyah, sehingga dia hidup sebatang kara dan tak ada yang menanggung dirinya. Di sisi lain, sekiranya dia kembali kepada keluarganya (sepeninggal suaminya itu) niscaya dia akan disiksa dengan pedih oleh orang-orang kafir supaya kembali ke agama lamanya. Maka dipilihnya oleh Rasulullah untuk menjadi istrinya guna menanggung beban hidupnya. Ini merupakan puncak kebaikan dan penghormatan Rasulullah kepada Saudah karena kebenaran iman dan keikhlasannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
3.Aisyah binti Abu Bakar r.a.
Aisyah dinikahi oleh Rasulullah saw. dalam keadaan masih perawan, dan merupakan satu-satunya istri Rasulullah saw. yang betul-betul perawan. Aisyah adalah di antara istri-istri yang paling cerdas dan kuat hafalannya. Bahkan, boleh dikatakan daya tangkap dan pemahamannya mengalahkan kaum lelaki. Banyak sekali pembesar sahabat yang bertanya kepadanya tentang masalah hukum agama, bahkan yang mereka anggap musykil (tidak dipahami dengan benar), Aisyahlah yang dapat memecahkannya.
Rasulullah sendiri lebih banyak mencintai Aisyah daripada istri-istrinya yang lain, sekalipun beliau selalu adil dalam hal giliran. Sampai-sampai beliau berdoa, “Ya Allah, inilah giliranku yang dapat kumiliki (kukuasai). Oleh karena itu janganlah Engkau menghukum aku dalam hal yang Engkau kuasa tetapi aku tidak berkuasa.” Doa ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
4.Hafshah binti Umar bin Khathab r.a.
Hafshah dinikahi Nabi saw. dalam keadaan janda dari mendiang suaminya, Khunais bin Hudzaffah Anshari, yang meninggal pada waktu Perang Badar setelah mengalami cedera yang luar biasa. Hafshah pernah ditawari oleh ayahnya (Umar) kepada Utsman ketika istrinya Ruqayyah r.a. meninggal dunia. Namun pada akhirnya dinikahi Rasulullah saw. setelah Utsman membicarakan hal ini dengan Rasulullah saw.
5.Zainab binti Khuzaimah r.a.
Beliau dinikahi Nabisaw. Sesudah Hafshah yang menjadi janda dari mendiang suaminya ‘Ubaidah bin al-Harits bin ‘Abdul Muththalib r.a. yang syahid di Perang Badar. Ketika suaminya syahid, Zainab bertindak sebagai juru rawat untuk mengobati luka dan membalutnya dengan perban hingga Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin. Setelah Rasulullah mengetahui akan kesabaran dan ketabahan hatinya serta kesungguhannya dalam membela Islam, sedang kian lama tidak ada orang yang mau menanggungnya, maka dipinanglah oleh Nabi saw. untuk dinikahinya sendiri.
6.Zainab binti Jahsy r.a.
Beliau adalah putri bibi Rasulullah saw., Umaimah. Beliau dinikahi Rasulullah saw. dalam keadaan janda, karena dicerai Zaid bin Haritsah. Ia dinikahi oleh Rasulullah karena ada suatu hikmah yang sangat tinggi yang tidak bisa diungguli oleh pernikahan siapapun, yaitu demi menghapuskan tradisi adopsi pada zaman Jahiliyah.
7.Hindun (Ummu Salamah) Makhzumiyyah r.a.
Beliau dinikahi Nabi saw. dalam keadaan menjanda dari mendiang suaminya Abdullah bin Abdul Asad. Ummu Salamah adalah seorang wanita yang cerdas dan matang dalam memahami persoalan dengan pemahaman yang baik dan dapat mengambil keputusan dengan tepat pula. Hal tersebut ditunjukkan pada peristiwa Hudaibiyah.
8.Ummu Habibah (Ramlah) binti Abu Sufyan r.a.
Beliau dinikahi Rasulullah saw. pada tahun 7 Hijriah. Beliau adalah janda dari mendiang suaminya, Abdullah bin Jahsy yang meninggal di bumi hijrah Habasyah. Yang mengawinkan ketika itu ialah Raja Najasyi dengan mahar 4.000 dirham (sedang Rasulullah saw. sendiri tidak berada di tempat upacara pernikahan itu). Setelah akad selesai, dia dikirim kepada Nabi bersama Syurahbil Hasanah.
9.Juwairiyah binti Harits r.a.
Juwairiyah merupakan seorang putri kepala suku Bani Musthalaq. Janda dari mendiang Musafi’ bin Shafwan yang gugur pada waktu perang Muraisi’ ini jatuh ke tangan kaum muslimin sebagai tawanan perang. Hikmah pernikahan ini ialah dari aspek politik, karena setela pernikahan ini Bani Musthalaq menyatakan masuk Islam sehingga jadilah mereka semua saudara seiman.
10.Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab r.a.
Shafiyyah binti Huyay dinikahi setelah menjadi tawanan pada Perang Khaibar. Saat itu beliau diberi dua pilihan, dimerdekakan dan menjadi istri Rasulullah atau dikembalikan kepada keluarganya. Karena beliau mengetahui ketinggian akhlak Rasulullahm serta merasa cenderung kepada Islam dan memercayai kerasulan Nabi saw., yang akhirnya memilih dinikahi dan masuk Islam yang diikuti oleh beberapa orang dari kalangan kaumnya.
11.Maimunah binti Harits Hilaliyyah r.a.
Maimunahm begitulah nama yang diberikan oleh Rasulullah saw., nama aslinya adalah Barirah, dan beliau merupakan istri Nabi yang paling akhir. Aisyah pernah berkata tentang Maimunah, “diantara kami para istri Rasul, dia adalah perempuan yang paling takwa kepada Allah dan yang paling rajin bersilaturahim.”
Demikianlah riwayat tentang ummahatul mukminin, para istri Rasulullah saw. yang oleh Allah dimuliakan sebagai pendampingnya. Pernikahan Rasulullah dengan mereka mengandung hikmah yang banyak sekali, yang selalu dijaga oleh Rasul. Diantaranya demi kepentingan agama dan menjelaskan tentang hukum agama, yakni dengan menundukkan hati manusia (terutama lawannya), sehingga para pembesar kabilah itu tertarik pada Islam dan mau berhubungan baik dengan kaum muslimin.Allahua’lam bish showab.(Nad.Foto.Istimewa)
