Mengenal PPOK dan Dampaknya

Setiap tahunnya pada Bulan November, seluruh masyarakat dunia memperingati World COPD Day atau yang kita kenal sebagai hari PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) sedunia.

 

Peringatan ini ditujukan untuk meningkatkan kewaspadaan kita terhadap penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). PPOK sendiri merupakan penyakit saluran pernapasan dengan sifat progresif, dan berkaitan dengan pajanan terhadap asap rokok serta polusi udara.

 

Tahun ini merupakan peringatan ke-20 hari PPOK sedunia yang jatuh pada tanggal 17 November 2021. Adapun tema yang diangkat adalah “Healthy Lungs – Never more important”. 

 

Sebagian besar kematian akibat PPOK terjadi pada negara berkembang. Kematian akibat PPOK diperkirakan akan terus meningkat kedepannya. Hal ini terjadi terutama pada mereka yang terus-menerus terkena asap rokok maupun polusi udara. Saat ini PPOK terdiagnosis lebih dari 300 juta kasus di dunia. Di Indonesia sendiri diperkirakan sekitar 4,8 juta orang menderita PPOK.

 

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dalam siaran persnya secara virtual pada Rabu (18/11/2022) ditujukan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat luas akan pentingnya kesehatan paru.

 

Kesehatan paru dapat tercapai dengan cara tetap bergerak aktif, mengurangi pajanan terhadap polusi udara dan asap rokok, menjaga nutrisi yang baik serta tetap aktif mengkonsumsi obat secara benar dan rutin kontrol sesuai rekomendasi dari penyedia layanan kesehatan.

 

Inisiatif untuk mengurangi angka kematian maupun beban yang ditimbulkan akibat PPOK telah dilakukan di seluruh belahan dunia, termasuk diantaranya program berhenti merokok, program untuk mengurangi polusi udara baik dalam maupun luar ruangan, serta skrining secara aktif terhadap faktor risiko penyakit paru.

 

Pasien dengan PPOK diketahui memiliki kerentanan terhadap infeksi virus, termasuk diantaranya COVID-19. Infeksi virus pada pasien PPOK, dapat mencetuskan perburukan secara akut yang dikenal sebagai eksaserbasi, diketahui dapat menurunkan kualitas hidup, menurunkan fungsi paru serta menimbulkan kematian akibat komplikasi PPOK.

 

Selaras dengan hal ini, penderita PPOK yang terinfeksi COVID-19 seringkali dilaporkan mengalami penyakit dengan derajat yang lebih berat, dan tidak jarang memerlukan perawatan intensif.

 

“Adanya pandemi mengingatkan kita betapa pentingnya kesehatan paru kita dalam menjaga tubuh kita dari penyakit. Kesehatan paru menjadi bagian penting dalam hidup kita sehari-hari. Adanya pandemi bukan berarti mencegah kita untuk tetap aktif bergerak. Berhenti merokok memiliki peranan yang besar dalam mencegah terjadinya PPOK. Berhenti merokok dapat mengurangi beratnya gejala PPOK pada mereka yang sudah terdiagnosis,” ucap Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)

 

Lebih lanjut dikatakan Agus Dwi, Gerakan secara aktif mencegah timbulnya polusi udara baik di dalam maupun di luar ruangan perlu konsisten/terus menerus dilakukan.

 

” Jangan ragu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas – fasilitas kesehatan yang ada disekitar kita dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi guna pencegahan terhadap infeksi paru, influenza, maupun COVID-19,” ucap DR. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) menambahkan.

 

Erlina Burhan dalam kesempatan tersebut juga mengatakan bahwa perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat untuk pekerjanya, masyarakat dapat menjaga lingkungan bebas dari polusi udara, mereka yang sakit beserta keluarganya dapat memanfaatkan kualitas layanan kesehatan termasuk rehabilitasi paru. 

 

“Pencegahan selalu lebih baik dari mengobati. Paru yang sehat, menghindarkan kita dari berbagai macam penyakit,” tutupnya. (Dw)