Jakarta, GPriority.co.id – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, menyampaikan permohonan maaf dan merasa keliru atas pernyataan sebelumnya.
Sebelumnya Suharyanto menyebut bencana banjir bandang yang terjadi di kawasan Pulau Sumatra saat ini telah membaik meski framing di media sosial seolah masih mencekam.
“Memang kemarin kelihatannya mencekam karena berseliweran di media sosial. Tetapi begitu kami tiba langsung di lokasi, banyak daerah yang sudah tidak hujan. Yang paling serius memang Tapanuli Tengah. Tetapi wilayah lain relatif membaik,” jelasnya.
Namun ia mengaku terkejut usai melihat betapa besarnya dampak banjir yang terjadi di Tapanuli Selatan saat berkunjung ke Desa Aek Garoga, Batang Toru.
Dalam kunjungan tersebut, selain menyampaikan permintaa maaf kepada Bupati Tapanuli Selatan, Suharyanto juga menegaskan peran BNPB untuk hadir serta menolong masyarakat sekitar serta kawasan lainnya yang terdampak banjir.
“Saya tak mengira sebesar ini. Saya mohon maaf, Pak Bupati. Bukan berarti kami tak peduli,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari ANTARA pada Selasa (2/12).
Dalam kesempatan yang sama, Suharyanto juga menjelaskan alasan pemerintah belum menetapkan banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat, sebagai bencana nasional.
Ia menyebut, kondisi di banyak wilayah sudah mulai membaik saat tim BNPB tiba di lapangan. Menurutnya, Tapanuli Tengah menjadi daerah yang paling serius terdampak. Sementara untuk daerah lainnya kini sedang dalam penanganan di tingkat provinsi.
Laporan menyebut, pemerintah pusat melalui BNPB, TNI, serta Polri dan berbagai kementerian saat ini sedang mengerahkan bantuan secara masif. Seiring dengan cuaca yang mulai membaik, pembukaan jalan dan distribusi logistik juga mulai lancar.
Sebagai informasi, update terbaru dari BNPB saat ini korban meninggal akibat banjir dan longsor di Sumatra telah mencapai 604 orang. Data Pusdatin BNPB per Senin (1/12) kemarin mencatat korban hilang sebanyak 464 orang, dengan korban luka sebanyak 2.600 orang, warga terdampak 1,5 juta orang, serta pengungsi mencapai 570 ribu orang.
Sementara kerusakan bangunan meliputi 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rusak sedang, dan 20.500 rusak ringan.
