Natal di Parepare, Ormas Ikut Jaga Perayaan Ibadah


GPriority.Co.Id. Parepare — Perayaan Natal di Kota Parepare dari tahun ke tahun terus menjaga toleransi, selain dijaga pihak kemanan dari Satuan Kepolisian, Pelaksanaan Ibadah juga melibatkan Ormas untuk menjaga kelangsungan ibadah.

Seperti yang dilakukan Gereja Toraja Mamasa Kelurahan Bukit Indah Kecamatan Soreang Kota Parepare Sulawesi selatan. Ia melibatkan Ormas dalam pengamanan perayaan ibadah Natal Desember 2021 ini.

Ketua Majelis Gereja Julius Upa, ST. Mengaku, Natal kali ini seperti biasanya kita libatkan unsur keamanan dan ormas yang ingin membantu jalanya ibadah, Keberadaan mereka diluar halaman gereja namun sebelumnya pihak keamanan melakukan pemeriksaan barang bawaan tamu sebelum masuk halaman Gereja. Itu dilakukan untuk menjaga keamanan bersama dan kelangsungan Ibadah yang tenteram, terang Julius Upa.

Ketua Ormas Laskar Merah Putih (LMP) Kota Parepare H.Syamsul Latanro, mengatakan sejak 3 tahun terakhir, ia menurunkan anggotanya ke gereja gereja untuk menjaga kelangsungan ibadah. Kegiatan itu dibagi sedikitnya 10 personil di lokasi gereja yang ada di Parepare, jelas H.Syamsul Latanro.

Perayaan Natal di Kota Majemuk seperti Parepare ini, memang perlu melibatkan semua aspek dan dukungan dalam pelaksananya, khususnya diaspek keamanan.

Masyarakat Parepare yang merayakan Natal kebanyakan dari Suku Toraja, Batak, Timor dan NTB, Flores yang merupakan warga pendatang yang banyak berprofesi sebagai Aparat keamanan, ASN dan bidang pekerjaan lainya, mereka tersebar di sekitar 15 Gereja di Parepare (data FKUB 2019)

Natal di Parepare, sebelumnya dilaksanakan Natal bersama sebelum perayaan Natal serentak (25 Desember) dihadiri semua Majelis masing masing Gereja.

Perayaan Natal akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.

Pada tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi, suatu gerakan keagamaan pada tahun 1500-an.

Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Sejak tahun 1900-an, perayaan Natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.

Sama dengan hari Besar Keagamaan ldul Fitri, Perayaan Natal juga diwarnai dengan kebiasaan mudik, Kota Parepare yang merupakan Kota Pelabuhan, pihak KSOP menyiapkan posko mudik Natal di Pelabuhan Parepare. (Ae)

Related posts