Pantai Padang Melang, Bekas Sarang Bajak Laut yang Indahnya Sulit Dilupakan

Jakarta, Gpriority.co.id – Kenangan 14 tahun lalu akan indahnya pantai Padang Melang, Jemaja, Kepulauan Riau (Kepri) masih terpatri. Siapa sangka pantai ini dahulu sarangnya bajak laut.

Dua pulau saya lewati dari Natuna untuk menyaksikan damainya pantai Padang Melang yang terletak di Jemaja. Itu berarti ratusan mil dan puluhan jam untuk tiba di Jemaja. Lagi – lagi, saya harus menggunakan kapal kecil untuk merapat ke Jemaja. Kali ini adalah kapal nelayan yang digunakan untuk mengangkut bantuan. Saya disambut hujan deras ketika tiba di Jemaja. Tetapi hujan itu tak berlangsung lama. Setelah itu matahari menyengat dengan teriknya. Alam Jemaja seolah ingin mengajak saya berkenalan dengannya.

Selepas menyerahkan bantuan, Robi Sanjaya, Camat Jemaja saat itu, mengajak saya dan sebagian teman Ekspedisi Kesra Nusantara (EKN) 2011 menyambangi pantai Padang Melang. Karena ingin mengambil gambar alam Jemaja, saya memilih naik motor ketika menuju pantai Padang Melang. Sedangkan teman lainnya menggunakan mobil bersama Pak Camat yang masih berusia muda itu. Jemaja tampak seperti pulau – pulau di Kepulauan Riau lainnya. Banyak batu – batu granit besar berdiri di pinggir jalan dan bebukitan.

Namun yang membuat saya takjub, batu – batu itu tak ada di pantai Padang Melang. Pantai itu justru berhampar pasir putih sepanjang 7,5 km. Pantainya sangat landai dan berbentuk melengkung. Konon ini adalah pantai berpasir putih terpanjang di Asia Tenggara. Sementara, lautnya masih bersih serta berwarna biru muda karena bias dari pasir putih di dasarnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perairan tersebut tak terlalu dalam. Tak kalah menariknya juga, perairan ini masih mempunyai terumbu karang yang cukup bagus dengan biodata laut yang tetap terpelihara. Jadi, kita bisa melakukan snorkeling dan diving di perairain ini. Perbukitan yang mengelilingi pantai Padang Melang pun ikut menambah indahnya lanskap kawasan itu. Menurut Robi, Padang Melang sejak dulu sudah menjadi tujuan wisata warga lokal termasuk mereka yang tinggal di kepulauan Riau.

Nama Padang Melang konon bermakna pedang yang menyilang. Pedang yang menyilang tersebut adalah lambang dari bajak laut. Dahulu kala, pantai ini sering menjadi tempat singgahnya bajak laut. Bajak laut kerap beristirahat di pantai ini. Bisa jadi karena lokasinya terpencil dan sepi pada jaman dahulu. Karena itulah, pantai berpasir putih ini dinamakan Padang Melang. Sebagai simbol, bahwa pantai ini sering disinggahi para bajak laut. Dan, pedang yang menyilang pun dijadikan ikon juga pada tugu Jemaja.

Sayangnya, keindahan Padang Melang yang tak kalah dari pantai – pantai di Bali belum dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai. Kondisi ini bukan berarti pemerintah setempat berdiam diri. Agar wisatawan lebih mudah mengunjungi Jemaja, pemerintah provinsi kepulauan Riau rencananya akan membangun bandara Jemaja. Pembangunan landasannya akan tiga tahap. Pertama 900 meter, berikutnya diperpanjang menjadi 1.500 meter hingga kemudian menjadi 2.000 meter.

Pemprov juga akan membangun jembatan penghubung Pulau Siantan Kecamatan Siantan dengan Pulau Palmatak Kecamatan Palmatak. Dua infrastruktur perhubungan itu tentu akan dapat meningkatkan ketahanan dan pertahanan pulau-pulau terdepan.

Selama ini, untuk mencapai Jemaja wisatawan hanya menggunakan transportasi udara oleh Sky Avition (Selasa-Kamis-Sabtu: Matak-Tanjung Pinang-Jakarta pp.); Deraya Airlines (6x seminggu: Batam-Tanjung Pinang- Matak pp.); dan Fokker 50 (6x seminggu: Matak-Batam-Jakarta pp.). Sedangkan transportasi laut dilayani oleh KM. Bukit Raya (2x sebulan); KM. Gunung Bintan (2x sebulan) dan KM. Trigas (2x sebulan), serta MV. VOC BATAVIA(Rabu: Tanjung Pinang-Tarempa; Jum’at: Tarempa- Tanjung Pinang). Baik penerbangan atau pelayaran itupun tak langsung singgah di Jemaja. Anda harus menggunakan kapal kecil lagi untuk menuju Jemaja.

Foto : Ponco Suharyanto