Menlu Sugiono: Tak Ada Perdamaian Tanpa Palestina Merdeka

Menlu Sugiono saat menghadiri KTT Darurat di Doha, Qatar, Selasa (9/9) lalu/Foto : Dok. Kemlu RI Menlu Sugiono saat menghadiri KTT Darurat di Doha, Qatar, Selasa (9/9) lalu/Foto : Dok. Kemlu RI

Doha, GPriority.co.id – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono, menyoroti isu kemerdekaan Palestina yang saat ini terus didorong oleh negara-negara di dunia.

Saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Darurat Arab-Islam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Doha, Qatar, pada Selasa (9/9) lalu, Menlu Sugiono menegaskan solidaritas Indonesia bagi Qatar, sekaligus komitmen guna terus mendukung perjuangan rakyat Palestina dan mendorong solidaritas internasional demi menjaga perdamaian di kawasan.

Dilansir dari rilis resmi Kemlu RI, Menlu Sugiono menegaskan, “Agresi Israel minggu lalu bukan hanya pelanggaran kedaulatan Qatar, tetapi juga pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, Piagam PBB dan prinsip-prinsip OKI, serta merupakan ancaman serius bagi perdamaian regional dan global.”

Di samping itu, dirinya juga menyatakan komitmen Indonesia guna mendukung penuh kemerdekaan rakyat Palestina dengan menegaskan, “Tidak akan ada perdamaian abadi tanpa solusi dua negara. Jalan menuju perdamaian tetap satu: terwujudnya Negara Palestina merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.”

Perlu diketahui, KTT tersebut juga menghasilkan Joint Communiqué, kecaman kolektif atas serangan Israel ke Doha sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap kedaulatan dan hukum internasional serta menegaskan solidaritas terhadap Qatar dan dukungan terhadap upaya mediasi Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat. Komunike juga memuat komitmen bersama untuk terus mendorong Solusi Dua Negara, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.

KTT Darurat Arab-Islam di Doha dipimpin Amir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, dan dihadiri 22 Kepala Negara dan Pemerintahan anggota OKI dan Liga Arab, termasuk Presiden Turki, Presiden Palestina, Presiden Iran, Perdana Menteri Arab Saudi, Perdana Menteri Pakistan, dan Perdana Menteri Malaysia. Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi dunia Islam untuk menunjukkan kepemimpinan kolektif dalam memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan solidaritas di kawasan.