Penulis Heri Yulianto Ungkap Alasan Penjualan Buku Di Toko Makin Melempem

Jakarta, GPriority.co.id – Dewasa ini, semakin banyak toko buku yang dahulu ramai, namun sekarang sudah gulung tikar satu-persatu. Bahkan toko buku besar seperti Gramedia pun mengurangi gerai dan luasan gerai penjualan bukunya. Satu hal yang juga menjadi sorotan, toko buku terkenal di Kwitang, Jakarta Pusat, juga kian sepi pembeli.

Padahal dahulunya, lokasi toko buku Kwitang sangatlah terkenal, sampai dijadikan latar syuting film “Ada Apa Dengan Cinta”.

Isu ini juga diakui oleh penulis buku Heri Yulianto, yang sudah merilis karya sebanyak 70 buku. Dilansir dari laman RRI, Heri mengatakan, penjualan buku di toko yang makin melempem, disebabkan oleh beberapa faktor.

Diantaranya karena minat masyarakat, terutama kalangan muda, untuk mencari atau membeli buku baik secara offline maupun online. Penyebab lainnya karena pedagang buku kebanyakan tidak dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Heri mengungkapkan, sudah ada juga penjual buku yang biasa berjualan di toko, mencoba beralih menjual buku secara online. Namun, banyak yang gagal dan akhirnya gulung tikar.

Namun, Heri juga membantah bahwa gempuran buku digital menjadi salah faktor penyebab makin suramnya bisnis buku. Menurutnya, konsumsi buku digital di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan negara lain.

Heri mengatakan, para penulis saat ini juga banyak yang membuat edisi digital dari setiap buku yang dibuatnya, sebagai alternatif cara membaca buku.

“Selain itu, buku fisik masih sebagai sasaran utama para peminat buku, karena tetap memiliki berbagai keunggulan. Mulai dari sensasi memegang dan membaca buku fisik, sebagai koleksi, sampai pada alasan kesehatan. Membaca buku digital tentu masih ada anggapan gangguan radiasi terhadap mata,” jelasnya.

Foto : Kaskus