Jakarta, GPriority.co.id – Hari ini, Jumat (16/1), umat Islam memperingati Isra Mikraj 1447 Hijriah. Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan momentum tersebut sebagai bentuk “pertobatan ekologis”.
Menurutnya, kesalehan ritual seperti salat tidak boleh dipisahkan dari kesalehan sosial serta kepedulian terhadap kelestarian alam semesta.
“Menjadi khalifah berarti menjaga amanah, bukan menguasai bumi secara serakah. Karena itu, Isra Mikraj layak menjadi momentum pertobatan ekologis. Berhenti merusak, mulai merawat, dan menghadirkan rahmat bagi alam semesta,” kata Nasaruddin pada Peringatan Isra Mikraj Tingkat Kenegaraan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis malam (15/1).
Ia menjelaskan, peristiwa Isra Mikraj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual sejatinya tidak berhenti di langit, tetapi harus berdampak nyata di bumi. Nabi Muhammad SAW, kata dia, memberi teladan dengan kembali ke bumi untuk menebar rahmat, meski telah mencapai puncak kenikmatan di Sidratul Muntaha.
“Spirit langit yang kita rayakan seharusnya menjelma menjadi aksi bumi. Salat yang khusyuk semestinya melahirkan sikap hemat air, cinta kebersihan, dan keengganan merusak alam. Di situlah ekologi menemukan maknanya,” imbuhnya.
Nasaruddin juga mencontohkan perilaku ramah lingkungan dalam ibadah, seperti anjuran Nabi Muhammad SAW untuk berhemat air saat berwudu.
Ia menyebut Masjid Istiqlal telah menerapkan prinsip tersebut hingga meraih sertifikat internasional EDGE dari Bank Dunia sebagai Green Mosque.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin turut mengajak masyarakat mendoakan serta membantu para korban bencana banjir dan longsor di sejumlah daerah. Ia menilai musibah tersebut sebagai ujian untuk “naik kelas” sekaligus peringatan agar manusia lebih peduli terhadap keseimbangan alam.
