Jakarta, GPriority.co.id – Viral di media sosial sebuah yang memperlihatkan seorang guru di salah satu SMK di Jambi menjadi menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswanya di lingkungan sekolah.
Insiden yang terjadi pada Selasa (13/1) tersebut memicu kecaman publik serta perdebatan luas, mulai dari isu kedisiplinan siswa, profesionalisme guru, hingga relevansi kurikulum pendidikan saat ini.
Menanggapi peristiwa tersebut, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Ratih Megasari Singkarru, menilai kasus pengeroyokan guru oleh siswa SMK di Jambi merupakan tamparan keras sekaligus cermin kondisi dunia pendidikan saat ini, khususnya terkait memburuknya relasi antara guru dan siswa di ruang kelas.
Ratih menegaskan, insiden tersebut tidak semestinya disikapi dengan saling menyalahkan, baik terhadap siswa, guru, maupun kurikulum yang berlaku. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada krisis adab dan komunikasi dalam praktik pendidikan sehari-hari.
“Kasus pengeroyokan guru di Jambi adalah tamparan keras sekaligus cermin bagi dunia pendidikan kita. Daripada sibuk mencari kambing hitam, lebih bijak jika kita melihat akar masalahnya dengan jernih sebagai bahan introspeksi bersama,” ujar Ratih dalam keterangannya, Jumat (16/1).
Ia mengakui bahwa interaksi di ruang kelas saat ini memang belum berada dalam kondisi ideal. Di satu sisi, guru menghadapi tantangan dalam menegakkan disiplin tanpa kekerasan. Namun di sisi lain, respons siswa yang membalas rasa tersinggung dengan pengeroyokan massal menunjukkan krisis karakter yang serius.
“Respons siswa yang membalas rasa tersinggung dengan pengeroyokan massal menunjukkan krisis adab yang parah. Solidaritas sesama teman telah salah arah menjadi tindakan premanisme yang tak bisa dibenarkan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ratih menepis anggapan yang langsung mengaitkan insiden tersebut dengan kegagalan Kurikulum Merdeka. Menurutnya, tidak ada kebijakan pendidikan yang melegitimasi kekerasan dalam bentuk apa pun.
“Dokumen pendidikan manapun tidak pernah mengajarkan kekerasan. Masalah sesungguhnya terletak pada implementasi di lapangan,” ucap Ratih.
