Jakarta, GPriority.co.id – Tepat pada hari Selasa, 7 Oktober 2025, dunia memperingati dua tahun serangan yang memicu ketegangan baru antara Hamas dan Israel. Momentum ini dapat menjadi titik tolak untuk mendorong suatu komitmen bersama menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Oleh karenanya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Politik (PRP), bekerja sama dengan Universitas Prof. Dr. Moestopo dan Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES), menyelenggarakan seminar “Refleksi Dua Tahun Serangan Israel – Hamas: Mendorong Solusi Perdamaian Berkelanjutan”. Kegiatan berlangsung di Kampus BRIN, Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawirohardjo, Jakarta Selatan, Selasa (7/10).

Dampak dari serangan 7 Oktober dua tahun silam begitu besar dan memicu ketegangan Hamas dan Israel. Lebih dari 60.000 warga Gaza tewas akibat serangan brutal Israel. Konflik ini tidak hanya mengubah peta geopolitik di Timur Tengah, tetapi juga berdampak terhadap kehidupan jutaan orang, infrastruktur, dan stabilitas politik di kawasan itu.
Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Athiqah Nur Alami mengatakan, berbagai negara belahan dunia memprotes tingkah laku Israel yang dianggap melakukan genosida terhadap warga Palestina. Akhirnya, atas prakarsa Perancis dan Arab Saudi, dilakukanlah pertemuan di New York pada 28-30 Juli 2025.
“Pertemuan itu telah menghasilkan New York Declaration, berisi 42 poin pernyataan penting untuk perdamaian Palestina-Israel,” ujar Athiqah.
Lalu pada September 2025 lalu lanjut Athiqah, telah diadakan sidang tahunan di PBB. Masalah Palestina juga dibahas dalam forum internasional tersebut.
“Berbagai upaya di atas, semestinya dapat mendorong adanya solusi perdamaian yang berkelanjutan di Timur Tengah,” lanjutnya. Negara Palestina tentu diharapkan dapat berdiri berdampingan dengan Israel sebagai “two state solution”.
Oleh karena itu, penting untuk mendiskusikan bagaimana solusi perdamaian berkelanjutan Palestina-Israel dapat digagas dan diperkuat. Menurutnya, solusi ini mencakup respons dan peran dari berbagai aktor di kawasan, baik negara-negara Barat, Dunia Arab, maupun Indonesia. Sehingga, momen peringatan dua tahun serangan Israel-Hamas dapat menjadi titik tolak untuk mendorong suatu komitmen bersama menciptakan perdamaian berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.
Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari serangan Israel-Hamas, mengevaluasi respons internasional, serta mencari solusi untuk perdamaian yang berkelanjutan. Sehingga, sesuai harapan bersama, terwujud hubungan yang damai antara Israel dan Palestina di masa mendatang.
Diskusi yang dijalin interaktif dalam seminar ini menghadirkan para praktisi dan sosok profesional dari lingkup periset dan akademisi.
