Jakarta, GPriority.co.id – Presiden Prabowo Subianto belum lama ini mengungkapkan rasa syukurnya karena Indonesia mampu menangani bencana banjir dan longsor di kawasan Sumatra tanpa bantuan luar negeri.
Ungkapan tersebut disampaikannya saat memberikan pidato pada agenda HUT ke-61 Partai Golkar, Jumat (5/12) lalu. Meski bencana ini menjadi ujian berat bagi negara, namun ia menilai pemerintah dapat bergerak cepat, salah satunya dengan mendistribusikan BBM ke wilayah yang terisolasi. Begitupun dengan mengatasi kerusakan infrastruktur seperti jembatan putus.
“Becana ini sekali lagi dia musibah, tapi di sisi lain menguji kita. Alhamdulillah kita kuat, kita mengatasi masalah dengan (kekuatan) kita sendiri,” ungkap Prabowo dikutip dari ANTARA pada Senin (8/12).
Lebih lanjut Ketua Umum Partai Gerindra tersebut juga menilai upaya-upaya yang dilakukan pemerintah telah menunjukkan kekuatan dan kemampuan Indonesia dalam menghadapi musibah besar secara mandiri.
Di sisi lain, sebelumnya Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono juga memastikan Indonesia hingga kini belum membuka pintu bantuan internasional. Ia menyebut, bantuan asing hanya akan dimintanya apabila situasi benar-benar mendesak.
“Saat ini kita belum membuka sampai kita merasa kita membutuhkan bantuan. Tapi, saya kira kita dengan semua kekuatan, tadi disampaikan bahwa ini adalah upaya bersama. Saya yakin kita bisa menyelesaikan masalah ini,” ujarnya pada Jumat (5/12) lalu di Gedung Pancasila Kemlu RI, Jakarta.
Sugiono meyakini, saat ini pemerintah masih mampu mengatasi bencana dengan sumber daya alam negeri. Seluruh upaya terus dikerahkan agar penanganan banjir di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat dapat berjalan secara optimal tanpa perlu bergantung kepada negara lain.
Terbaru, Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Letjen TNI Suharyanto melaporkan saat ini korban meninggal dunia akibat bencana alam tersebut telah mencapai 921 orang. Sementara itu, 392 orang masih dilaporkan hilang. BNPB menyebut, warga yang luka-luka hinga saat ini telah mencapai 5 ribu jiwa.
Data tersebut meliputi tiga provinsi terdampak, Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat, dan disampaikan dalam agenda rapat terbatas bersama Presiden Prabowo bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait pada Minggu (7/12) kemarin, dilansir dari laman Sekretariat Negara.
