Psikiater Ingatkan Orang Tua, Jangan Anggap Sepele Masalah Anak, Dampaknya Bisa Serius

Ilustrasi anak mengalami kekerasan/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Orang tua dan orang dewasa di sekitar anak diingatkan untuk tidak meremehkan masalah yang sedang dihadapi anak. Sikap yang menganggap masalah anak sebagai hal kecil justru berpotensi membuat tekanan emosional semakin besar.

Dokter psikiatri konsultan anak dan remaja dari RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Widi Primaciptadi Sp.KJ Subsp. AR(K), mengingatkan pentingnya cara orang dewasa merespons ketika anak menghadapi masalah.

Menurutnya, kalimat yang meremehkan atau menyepelekan perasaan anak sebaiknya dihindari karena dapat membuat anak merasa tidak dipahami.

“Karena seringkali orang dewasa ini suka meresponsnya dengan kalimat yang rasional ‘itu cuma masalah kecil aja, nanti juga lupa, jangan lebay’ Padahal buat anak itu bukan kecil, itu bisa terasa sangat nyata dan sangat besar,” kata Widi dikutip Antara.

Ia menjelaskan bahwa orang dewasa tidak dapat menyamakan cara pandang mereka dengan cara anak memaknai sebuah masalah.

Hal yang menurut orang dewasa terlihat sederhana bisa terasa sangat berat bagi anak, terutama karena kemampuan regulasi emosi mereka belum sepenuhnya berkembang.

Menurut Widi, kesulitan anak dalam mengelola emosi tidak selalu dipicu oleh besarnya peristiwa yang terjadi, melainkan bagaimana anak memaknai kejadian tersebut.

“Masalah teman sebaya, konflik keluarga, tuntutan akademik kadang kala terlihat kecil bagi orang dewasa tapi jika tekanan bertemu dengan sistem regulasi yang belum matang dan identitas diri yang masih berkembang dampaknya bisa menjadi sangat besar,” kata Widi.

Ia menambahkan, tekanan emosional pada anak sering kali tidak muncul secara tiba-tiba atau dramatis. Sebaliknya, stres dapat berkembang secara perlahan melalui akumulasi pengalaman yang menekan.

Perubahan perilaku anak biasanya menjadi tanda awal yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Misalnya anak menjadi lebih pendiam, sering menyalahkan diri sendiri, mudah marah, atau lebih sensitif dibanding biasanya.

Perubahan kecil yang terjadi secara konsisten dapat menjadi sinyal bahwa anak sedang menghadapi tekanan emosional yang serius.

“Pada anak yang lebih muda, tanda-tandanya justru bisa lebih halus lagi seperti gangguan tidur, sulit konsentrasi, menarik diri dari teman-teman, tidak lagi menikmati aktivitas yang dulu disukai. Seringkali orang dewasa menganggap, ‘oh ini memang lagi fasenya saja’, ‘Namanya juga anak-anak lagi capek saja, lagi sensitif’. Padahal yang penting bukan satu kejadian, yang penting adalah pola dan konsistensi,” jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, peran orang tua dan orang dewasa di sekitar anak menjadi sangat penting untuk memberikan dukungan emosional.

Widi menekankan bahwa pendampingan yang tepat dapat membantu menahan tekanan emosional pada anak sehingga risiko perilaku berbahaya, termasuk keinginan mengakhiri hidup, dapat dicegah.

Ia menyarankan orang tua untuk tidak bersikap paranoid terhadap setiap perubahan sikap anak, namun tetap peka terhadap perubahan yang terjadi secara konsisten.

Selain itu, orang tua juga dianjurkan untuk membangun percakapan rutin dengan anak, memvalidasi perasaan mereka, serta menghindari kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain.

Menciptakan lingkungan rumah dan sekolah yang aman serta suportif juga dinilai penting agar anak merasa nyaman untuk mengekspresikan perasaan dan masalah yang mereka hadapi.