Raja Keraton Surakarta PB XIII Hangabehi Wafat, Begini Sosok Teladannya

Jakarta, GPriority.co.id – Sri Susuhunan Paku Buwono XIII atau yang akrab dikenal sebagai PB XIII Hangabehi, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, wafat pada usia 77 tahun. Kabar berpulangnya raja yang telah dua dekade memimpin keraton ini diumumkan Minggu (2/11).

Jenazah almarhum langsung dibawa ke Keraton Surakarta untuk prosesi penghormatan terakhir. Suasana haru menyelimuti kompleks keraton ketika keluarga, abdi dalem, serta masyarakat datang memberikan penghormatan kepada sang raja.

Setelah disemayamkan, jenazah akan dikirab menggunakan kereta pusaka Pralaya menuju Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta, sesuai tradisi turun-temurun keraton.

Sosok PB XIII Hangabehi

Sri Susuhunan Paku Buwono XIII lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948 dengan nama lengkap Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi. Ia merupakan putra tertua dari Sri Susuhunan Paku Buwono XII. Sejak kecil, PB XIII tumbuh di lingkungan keraton dan mendapat pendidikan adat serta budaya Jawa yang kental.

PB XIII resmi dinobatkan sebagai raja pada 10 September 2004, setelah masa transisi cukup panjang pasca wafatnya PB XII. Meski penobatannya sempat diwarnai dinamika internal, PB XIII akhirnya diakui sebagai raja sah Kasunanan Surakarta. Selama 21 tahun masa kepemimpinannya, ia dikenal sebagai pemimpin tegas yang berkomitmen menjaga martabat, adat istiadat, dan budaya Jawa.

Di bawah kepemimpinannya, berbagai tradisi keraton seperti sekaten, malam satu suro, dan upacara adat tetap dilaksanakan secara rutin. PB XIII juga dikenal aktif mendorong pelestarian seni tradisional, termasuk tari klasik dan gamelan, agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Warisan dan Dedikasi

PB XIII bukan hanya seorang raja, tetapi juga sosok panutan yang bersahaja dan dekat dengan masyarakat. Ia sering hadir di berbagai kegiatan budaya dan keagamaan serta membuka ruang dialog dengan warga. Karakter rendah hati dan keteguhannya dalam menjaga budaya membuatnya dicintai oleh banyak kalangan.

Warisan terbesar PB XIII adalah semangatnya menjaga eksistensi Kasunanan Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa. Di tengah arus modernisasi, ia memastikan keraton tetap menjadi benteng nilai-nilai luhur dan identitas budaya bangsa.

Duka dan Harapan

Kepergian PB XIII meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Solo. Banyak yang mengenang beliau sebagai simbol budaya, pemimpin adat yang tenang, serta penjaga tradisi yang tak tergantikan. Jenazahnya akan dimakamkan secara adat di Imogiri, berdampingan dengan para raja pendahulunya.

Meski sosoknya telah tiada, dedikasi dan perjuangan PB XIII dalam menjaga warisan budaya Jawa akan terus hidup. Masyarakat berharap semangatnya dapat diteruskan oleh generasi penerus, agar Keraton Surakarta tetap menjadi pusat kebudayaan dan kebanggaan masyarakat Jawa.