Segudang Manfaat di Balik Terapi Hiperbarik, Bukan Sekadar Hirup Oksigen!

Ruangan chamber (ruangan bertekanan tinggi), tempat terapi hiperbarik berlangsung/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) & Asyifa Hiperbarik Indonesia Ruangan chamber (ruangan bertekanan tinggi), tempat terapi hiperbarik berlangsung/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) & Asyifa Hiperbarik Indonesia

Jakarta, GPriority.co.id – Saat ini semakin banyak orang yang mengenal terapi hiperbarik. Terapi ini merupakan terapi menghirup oksigen di dalam ruangan yang bertekanan tinggi, agar oksigennya lebih banyak diserap oleh tubuh.

Menurut CEO Asyifa Hiperbarik Indonesia, Iman Fauzan Syarief, terapi hiperbarik pertama kali hadir di Indonesia sekitar tahun 1960-an ketika zaman Presiden Soekarno. Saat itu, terapi ini digunakan untuk mengobati keracunan karbon monoksida. Namun sebenarnya, terapi hiperbarik ada di dunia mulai tahun 1600-an akhir.

“Awalnya itu sebenarnya untuk penyakit kolera. Jadi bukan untuk penyakit penyelam dulu. Barulah digunakan untuk penyakit penyelam itu yang dekompresi, pada tahun 1930-1940-an oleh Tentara Angkatan Laut Amerika Serikat,” jelas Iman saat sesi wawancara eksklusif bersama GPriority di Jakarta, Senin (13/10).

Untuk mengetahui lebih dalam terkait terapi hiperbarik, GPriority pun mengajukan beberapa pertanyaan. Berikut ini pembahasan lengkapnya.

Manfaat dan efek samping terapi hiperbarik

Iman menyebut saat ini masih banyak orang yang belum paham terkait manfaat dari terapi hiperbarik. Padahal terapi ini bukan sekadar menghirup oksigen saja.

“Terapi hiperbarik itu menghirup oksigen di dalam suatu ruangan yang bertekanan tinggi. Jadi di atas permukaan laut itu sebenarnya ada tekanan udara. Kalau tekanan udara di atas permukaan laut itu satu atmosfer absolut. Semakin ke dalam bumi, apalagi bertambah berat jenis air, tekanan atmosfernya bertambah jadi 2-3 atmosfer. Jadi, molekul gas dari oksigennya itu semakin mengecil,” jelas Iman.

Dengan semakin mengecil, maka semakin banyak oksigen yang bisa terserap oleh tubuh. Jika berada di atas permukaan laut, oksigen yang masuk ke dalam paru-paru hanya dibawa oleh sel darah merah. Tetapi ketika masuk ke dalam chamber (ruangan yang diberi tekanan), oksigen bukan hanya dibawa oleh sel darah merah saja, melainkan juga dibawa oleh seluruh cairan tubuh.

“Manfaat pertama adalah regenerasi sel yang rusak itu bisa diperbaiki. Jadi fungsi utamanya adalah untuk menggantikan sel-sel yang rusak menjadi sehat kembali. Orang yang kurang tidur, dengan adanya terapi ini bisa terjadi regenerasi otak,” ungkapnya.

Iman mengatakan, bagi orang yang lelah bekerja, terapi ini sangat membantu untuk tidur lebih nyenyak dengan dilakukan selama seminggu sekali. Begitupun bagi pekerja yang hilang fokus, dapat menjadi lebih fokus setelah terapi. Terlebih bagi pekerja di luar ruangan yang sering terpapar polusi, lewat terapi ini dapat menghilangkan gas-gas polusi yang dihirup, sehingga mencegah terjadinya penyakit.

Manfaat selanjutnya, terapi hiperbarik juga berguna untuk pasangan suami istri yang ingin memiliki keturunan.

“Bagi orang yang mau punya anak yang tadinya susah, terapi ini bisa dipakai juga untuk bisa lebih cepat punya anak,” tambahnya.

Selanjutnya, bagi penderita diabetes, jantung, gagal ginjal, dan stroke, Iman mengatakan, “Sudah banyak contoh pasien yang pakai kursi roda, dia terapinya rutin per minggu lima kali dalam setahun, sekarang sudah bisa lari dan bawa kendaraan sendiri, sudah tidak lagi minum obat kolesterol dan lain-lain.”

Sementara bagi pasien penderita demensia (pikun), setelah mengikuti sesi terapi berulang, ia sudah tidak lagi gampang lupa. Terakhir bagi penderita autoimun dengan rematik, terapi ini diklaim dapat memperbaiki kualitas hidup mereka.

Kendati demikian, terapi hiperbarik juga memiliki beberapa efek samping, salah satunya rasa pusing ketika keluar dari chamber.

“Efek sampingnya, kalau sebelum masuk chamber pasien tidak makan, karena bisa menurunkan gula darah bagi orang diabetes, biasanya keluarnya akan pusing. Jika ada sinusitis, bisa sakit telinganya. Lalu, ketika keluar ruangan pasien pasti lapar sekali dan jadinya mengantuk. Tapi kalau masalah telinga pecah atau kejang-kejang tidak ada,” tutur Iman.

Batasan usia untuk terapi hiperbarik

Terkait batasan usia, terapi hiperbarik dapat dijalani bagi pasien dengan minimal usia 10 tahun, dimulai dari tekanan 5 meter.

“Dengan tekanan yang lebih rendah ya, kita disini menggunakan 14-20 meter di bawah laut atau 2,4 hingga 3 atmosfera absolut. Minimal umur 10 tahun, kita mulai dari tekanan 5 meter. Kalau dia seminggu berturut-turut sudah nyaman, kita naikkan jadi 10 meter. Kalau sudah nyaman lagi 14 meter,” kata Iman.

Sementara untuk maksimal umur, tidak ada batasan. Bahkan semakin tua umur pasien, semakin disarankan untuk mengikuti terapi ini. Terlebih, terapi hiperbarik juga dapat bermanfaat sebagai anti-aging. Setiap sesi terapi-nya akan berjalan selama 120 menit untuk 14 meter dan 75 menit untuk 20 meter.

“Semakin dalam semakin banyak oksigennya, maka waktu yang dibutuhkan untuk terapi lebih singkat,” sebut Iman.

Kisaran biaya terapi hiperbarik

Secara Undang-Undang, terapi hiperbarik masih disebut sebagai terapi altenatif atau terapi tambahan (adjuvan), sehingga belum bisa diklaim oleh BPJS Kesehatan. Namun jika anda melakukan terapi hiperbarik di tempat terapi seperti Asyifa Hiperbarik Indonesia, anda dapat menikmati terapi dengan harga yang lebih terjangkau dengan biaya Rp150 ribu. Sementara untuk di rumah sakit besar, kisaran biaya-nya mulai dari Rp400-500 ribu.

“Kalau BPJS belum bisa mengklaim (terapi) ini. Kalaupun ada, dari asuransi seperti Prudential misalnya. Tetapi itupun untuk kecelakaan penyelam yang terkena penyakit dekompresi. Kalau stroke belum bisa ditanggung. Padahal selain obat-obatan, terapi ini juga bisa membuat recovery pasien menjadi lebih cepat,” tutup Iman.