Jakarta, GPriority.co.id -Kecenderungan overthinking ternyata bisa semakin memburuk saat seseorang berada dalam kondisi sendirian.
Psikolog Jeffrey Bernstein mengungkap tiga alasan utama di balik fenomena tersebut, sekaligus menyoroti pentingnya koneksi sosial dalam menjaga kestabilan pikiran.
Dalam laporannya di laman Psychology Today yang dilansir Antara, Rabu (22/4), Bernstein menjelaskan bahwa overthinking terjadi ketika seseorang terus memutar pikiran tanpa adanya referensi eksternal untuk menguji realitas. Kondisi ini membuat otak kehilangan “penyeimbang” alami.
“Overthinking terjadi saat seseorang terus memutar pikiran ketika sendirian dan tidak memiliki referensi eksternal untuk menguji realitas,” tulisnya.
Ia menambahkan, saat sendirian, otak tidak mendapat pemeriksaan realitas, tidak ada kalibrasi emosional, dan tidak ada gangguan terhadap pikiran yang berputar. Akibatnya, pikiran negatif seperti kekhawatiran akan kegagalan atau kehilangan rasa hormat dari orang lain menjadi semakin intens.
Bernstein menegaskan bahwa overthinking bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan persoalan serius yang memiliki dasar dalam ilmu saraf. Ia juga memperkenalkan konsep social buffering, yakni peran kehadiran orang lain dalam meredam siklus pikiran cemas.
Memutus Lingkaran Pikiran Negatif
Alasan pertama, keberadaan orang lain dapat memutus lingkaran overthinking. Menurut Bernstein, ketika seseorang terjebak dalam pikiran berulang, upaya untuk memikirkannya lebih dalam justru memperparah kondisi karena otak sedang sensitif terhadap ancaman.
“Berada di sekitar orang yang relatif tenang dapat mengalihkan perhatian dan membantu sistem saraf lebih teratur,” jelasnya.
Ia bahkan mengaku kerap berjalan di pusat perbelanjaan yang ramai sebagai cara sederhana untuk meredakan perenungannya.
Masalah Terasa Lebih Besar Saat Sendirian
Kedua, kesendirian membuat masalah tampak lebih besar dari kenyataannya. Overthinking mendorong seseorang membesar-besarkan persoalan kecil menjadi skenario bencana.
Namun, kehadiran orang lain dapat memperluas perspektif. Individu menjadi lebih sadar bahwa masalah yang dihadapi hanyalah bagian kecil dari kehidupan, bukan keseluruhan identitas diri.
“Kehadiran sosial mengingatkan bahwa setiap orang menghadapi pergulatan sebagai manusia,” paparnya.
Overthinking Tumbuh dari Ketidakaktifan
Alasan ketiga, overthinking berkembang dalam kondisi tidak aktif. Keraguan dan stagnasi mental memperkuat siklus pikiran berulang.
Dalam bukunya “Freeing Your Child From Overthinking”, Bernstein memperkenalkan model PACE untuk mengatasi kondisi ini, yaitu pause (berhenti sejenak dengan napas tenang), acknowledge (mengakui sedang overthinking), contain (menahan diri agar tidak menyelesaikan semuanya sekaligus), serta engagement (kembali terlibat dalam aktivitas meski terasa tidak nyaman).
Menurutnya, keterlibatan sosial menjadi
kunci penting untuk keluar dari pusaran pikiran dan kembali pada tindakan nyata.
“Keterlibatan sosial membantu seseorang keluar dari pusaran pikiran dan kembali pada tindakan nyata,” tegas Bernstein.
