Sepak Terjang Irvian Bobby Mahendro, Sang “Sultan” yang Menjerat Atasan

Ketua KPK, Setyo Budiyanto, saat konferensi pers di gedung KPK. Foto: (instagram/official.kpk) Ketua KPK, Setyo Budiyanto, saat konferensi pers di gedung KPK. Foto: (instagram/official.kpk)

Jakarta, GPriority.co.id – Kasus pemerasan sertifikat K3 yang menjerat sebelas tersangka oleh KPK memasuki babak baru. Tokoh sentral dalam kasus ini, Irvian Bobby Mahendro (IBM), disebut sebagai dalang di balik pemerasan yang melambungkan harga sertifikat K3 dari Rp275.000 menjadi Rp6.000.000. Lantas, siapa Irivian Bobby Mahendro (IBM)?

IBM dijuluki “sultan” oleh atasannya, Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebener karena telah mengumpulkan banyak uang sejak 2019.

Ia diduga telah menerima Rp69 miliar dari total Rp81 miliar yang terkumpul. Dana tersebut dikabarkan digunakan untuk memfasilitasi gaya hidup mewah, termasuk membeli rumah dan mobil. Irvian sendiri sudah lebih dulu ditangkap oleh KPK.

Keterangannya yang gamblang, atau yang disebut “nyanyian,” membuka jalan bagi KPK untuk meringkus Wamenaker Immanuel Ebenezer, yang akrab disapa Noel. Noel ditangkap di rumah dinasnya di Pancoran, Jakarta Selatan, pada Kamis, 21 Agustus 2025 dini hari.

Profil Bobby Mahendro

Menurut beberapa sumber, Irvian Bobby Mahendro merupakan seorang ahli K3 di Kementerian Ketenagakerjaan. Ia diketahui pernah menempuh pendidikan S-1 Teknik Mesin di Universitas Trisakti dari tahun 2002 hingga 2008. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan S-2 Magister Manajemen di Universitas Satyagama dan lulus pada tahun 2010.

Irvian tercatat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kemenaker yang menjabat sebagai Koordinator Bidang Kelembagaan dan Personil K3 dari tahun 2022 hingga 2025.

Ia merupakan salah satu dari sebelas tersangka yang ditetapkan oleh KPK dalam kasus pemerasan sertifikat K3 ini. Selain Irvian sebagai otak di balik kasus ini, Immanuel Ebenezer juga ikut terseret sebagai tersangka. Noel diduga menerima uang sebesar Rp3 miliar dan satu unit motor Ducati Scrambler.

Kasus pemerasan ini diperkirakan terjadi dalam rentang waktu 2019-2024. Dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat (22/8) di Gedung Merah Putih KPK, dijelaskan bahwa dalam proses penerbitan sertifikasi, terjadi penggelembungan harga.

Uang hasil pemerasan tersebut kemudian mengalir ke beberapa pejabat Kemnaker dengan nilai yang fantastis, yaitu Rp81 miliar. Irvian yang dijuluki “sultan” oleh Noel, menerima bagian terbesar, yaitu Rp69 miliar. Julukan itu diberikan langsung oleh atasannya karena Irvian diketahui memiliki uang paling banyak di Bidang Pembinaan dan Pengawasan K3 (Binwas K3) Kementerian Ketenagakerjaan.

Pewarta: Rizqi Juned
Editor: Dimas A Putra