Soroti Kebakaran TPA Jatiwaringin, BRIN: Jangan Asal Pilih Teknologi TPA!

Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Sri Wahyono (kiri) Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Sri Wahyono (kiri)

Jakarta, GPriority.co.id – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti insiden kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin beberapa waktu lalu.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Sri Wahyono, menegaskan bahwa pemilihan teknologi harus disesuaikan dengan karakteristik sampah, kapasitas timbulan, serta kondisi wilayah agar mampu mengurangi risiko kegagalan pengelolaan sekaligus meningkatkan efektivitas penanganan sampah.

Lebih lanjut Wahyono menjelaskan bahwa banyak daerah masih memilih teknologi berdasarkan tren tanpa mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan.

“Pendekatan yang lebih tepat adalah memilih teknologi berdasarkan karakteristik sampah, skala timbulan, kondisi wilayah, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan pengelolanya,” ujar Sri Wahyono, Kamis (9/7) di Jakarta.

Menurutnya, setiap daerah memiliki komposisi sampah yang berbeda sehingga tidak ada satu teknologi yang cocok diterapkan untuk seluruh Indonesia.

Kesalahan dalam memilih teknologi justru berpotensi menimbulkan masalah baru, mulai dari tingginya biaya operasional hingga teknologi yang tidak dapat berfungsi secara optimal.

Sri menjelaskan, sampah organik dengan kadar air tinggi lebih tepat diolah menggunakan teknologi kompos atau biodigester. Sementara itu, sampah dengan kandungan bahan mudah terbakar yang tinggi dapat dimanfaatkan melalui teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF).

Adapun teknologi insinerasi maupun pengolahan sampah menjadi energi memerlukan persyaratan tertentu, termasuk kualitas bahan baku dan dukungan infrastruktur yang memadai.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan aspek sosial, kelembagaan, hingga kemampuan pendanaan pemerintah daerah sebelum mengadopsi teknologi baru. Tanpa dukungan tata kelola yang baik, investasi teknologi berisiko tidak memberikan manfaat maksimal.

“Teknologi hanyalah salah satu bagian dari sistem pengelolaan sampah. Keberhasilannya sangat bergantung pada tata kelola, sumber daya manusia, serta partisipasi masyarakat,” tegas Wahyono.

Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai kajian BRIN yang menekankan bahwa pengelolaan sampah harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir.

Selain penerapan teknologi yang tepat, keberhasilan sistem juga ditentukan oleh pemilahan sampah sejak sumber, penguatan regulasi, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta.

Dengan pendekatan berbasis karakteristik sampah dan wilayah, BRIN berharap pemerintah daerah dapat memilih solusi teknologi yang lebih tepat sasaran, efisien, dan berkelanjutan.

Strategi ini dinilai mampu menekan risiko kegagalan pengelolaan TPA sekaligus mendukung terciptanya sistem persampahan nasional yang lebih ramah lingkungan dan sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.