Starbuck Restrukturisasi, Tutup 400 Gerai di Amerika

Seattle, Gpriority.co.id – Starbucks Corporation mengumumkan restrukturisasi besar-besaran senilai US$1 miliar pada September 2025, yang memicu penutupan sekitar 400 gerai di Amerika Serikat. Langkah ini dipimpin CEO Brian Niccol untuk mengoptimalkan portofolio di Amerika Utara dengan fokus pada lokasi berkinerja tinggi sebagai “tempat ketiga” antara rumah dan kantor.

Dikutip dari Roya News, alasan penutupan tersebut dikarenakan penurunan penjualan selama enam kuartal berturut-turut dipicu persaingan ketat dari kedai independen, smoothie shop, dan bubble tea, ditambah pergeseran demografi pasca-pandemi. Kota besar seperti New York (42 gerai), Los Angeles (lebih dari 20), Chicago (15), Minneapolis (6), dan Baltimore (5) paling terdampak, akibat penurunan pejalan kaki, pekerjaan remote, serta masalah keamanan dan sewa.

Dampak keseluruhan, secara regional, Amerika Utara kehilangan 500 gerai termasuk Kanada yang menghasilkan penurunan bersih 113 toko pada akhir fiskal 2025. Globalnya, 627 penutupan di kuartal IV, dengan jaringan turun menjadi 18.311 lokasi dari 18.424. Restrukturisasi ini ikut PHK 900 karyawan non-ritel, tapi Starbucks rencanakan ekspansi 2026 pada gerai berkualitas.

Boikot Perburuk Situasi

Boikot internasional terkait konflik Gaza memperburuk situasi, meski utama di AS karena kinerja buruk. Boikot terhadap Starbucks, terutama sejak akhir 2023 terkait konflik Gaza, memengaruhi kinerja gerai di Indonesia dengan penurunan pengunjung dan penjualan signifikan. Boikot di Indonesia sebabkan tutup 11 gerai dan kerugian Rp50 miliar pada 2024.

Di negeri jiran, Malaysia, operator Berjaya Food mencatat kerugian bersih rekor Rp1,1 triliun pada 2025, dengan pendapatan turun 36% akibat boikot berkepanjanganan. Di Timur Tengah dan Eropa, pengunjung gerai menurun drastis, memicu penyesuaian operasional. Secara Global, boikot berkontribusi pada penurunan saham Starbucks hingga 9% ($11 miliar kerugian awal), meski faktor utama penutupan gerai di AS adalah restrukturisasi.

Foto : Wikipedia