Bagi Anda, sosok Sugeng Handoko mungkin sangatlah asing. Namun tidak bagi Masyarakat Desa Nglanggeran. Bagi mereka, Sugeng Handoko merupakan pahlawan karena mampu mengubah desa yang sering mengalami kekeringan menjadi desa ekowisata.
Sugeng sendiri mengakui mengubah desa yang sering terkena dampak kekeringan menjadi desa wisata bukanlah pekerjaan mudah. Penolakan sana-sini kerap muncul dari para orang tua yang sudah terbiasa berjualan batu dan kayu. “ Karena saya dianggap anak kemarin sore, usulan tidak pernah digubris. Tak hanya itu mereka juga tidak mau mengubah kebiasaan hidup mereka,” ucap Sugeng.
Penolakan tersebut tidak membuat Sugeng pasrah, justru dijadikan cambuk untuk membuktikan kepada masyarakat Nglanggeran bahwa dirinya bisa merubah desa tersebut menjadi desa wisata seperti yang dicita-citakan.
Bersama teman-temannya di Karang Taruna Bukit Putra Mandiri, Sugeng terus menjalankan misinya mengubah Nglanggeran menjadi desa wisata yang mampu menghasilkan uang bagi penduduk sekitarnya.
Sugeng sendiri mengakui di tahun pertama mewujudkan misinya tidaklah mudah. Butuh perjuangan untuk menyakinkan orang-orang untuk merubah tempat tinggalnya menjadi homestay. Tak hanya itu, dirinya juga menemukan kesulitan ketika akan membangun wisata alam dan buatan yang ada di desa tersebut, karena selalu mendapat tentangan dari masyarakat sekitar.
Berkat kesabaran dan ketelatenan Sugeng, akhirnya penduduk desa Nglanggeran luluh dan mau menjadikan tempat tinggalnya sebagai homestay. Tak hanya itu, mereka juga membantu Sugeng untuk merenovasi tempat yang bisa dijadikan destinasi wisata.
Pada 2008, beberapa rumah warga sudah bisa digunakan untuk homestay dan sejumlah kegiatan wisata mulai berjalan.Ia pun menyediakan beberapa paket wisata untuk para pelancong. Ada paket homestay, paket outboud, serta paket live in dengan banderol mulai Rp 130.000 hingga Rp 750.000 per orang. Aneka paket tersebut selalu diupdate di situs gunung-apipurba.com. Saat ini, sudah ada 80 homestay dengan kapasitas 250 orang. “Turis bisa berbaur dengan masyarakat,” katanya.
Berbagai kegiatan disuguhkan masyarakat Desa Nglanggeran. Beberapa diantaranya seperti outbond, treking Gunung Api Purba, panjat tebing, flying fox hingga paket wisata budaya seperti paket wisata bertani, paket belajar karawitan dan workshop batik topeng.
Tahun 2014, Pria kelahiran 1988 ini juga meluncurkan Griya Cokelat Nglanggeran. Di Griya tersebut aneka produk olahan kakao dijajakan dengan harga Rp 13.000 – Rp 60.000. Jadi setelah selesai berkunjung, pelancong bisa belanja oleh-oleh khas Nglanggerang. “Kalau bakpia sudah biasa,” tuturnya.
Segala jerih payah Sugeng dan teman-teman Karang Taruna Bukit Putra Mandiri kini membuahkan hasil. Mulai banyak masyarakat yang menjadi perajin, pemandu wisata, pedagang dan lainnya. Pendapat warga dan desa pun terangkat. Secara perlahan, mengubah pola pikir masyarakat bahwa sukses harus merantau. (Hs.Foto. dok.pribadi)
