Terungkap! Bahasa Sunda Punya Kecocokan dengan Bahasa Jepang

Terungkap! Bahasa Sunda Punya Kecocokan dengan Bahasa Jepang Terungkap! Bahasa Sunda Punya Kecocokan dengan Bahasa Jepang

Jakarta, GPriority.co.id – Sunda Pride! belum lama ini seorang profesor asal Jepang menemukan fakta bahwa ternyata Bahasa Sunda memiliki kecocokan dengan Bahasa Jepang.

Dilansir dari sebuah video YouTube di saluran Bang Jaey, seorang profesor bernama Prof. Dr. Mikihiro Moriyama dari Universitas Nanzan di Nagoya, Jepang, menggambarkan Bahasa Sunda sebagai bahasa yang kaya dan penuh kedalaman.

Moriyama juga menunjukkan bahwa Bahasa Sunda memiliki beberapa kesamaan yang menarik dengan Bahasa Jepang, terutama dalam cara mereka menangani nuansa linguistik dan kesopanan. Karena kesamaan fitur ini, Moriyama berpikir jika Bahasa Sunda sebenarnya lebih cocok dengan Bahasa Jepang daripada Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris.

Disampaikan oleh Moriyama melalui webinar daring yang diselenggarakan oleh Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda di Universitas Padjadjaran (PDP-BS UNPAD), ia menyatakan keyakinannya terhadap potensi global Bahasa Sunda.

Dirinya juga menyoroti pesona unik dari Bahasa Sunda, terutama keberadaan undak-usuk basa, sistem tingkatan bahasa yang memperkaya kosakata dan ekspresi budayanya.

“Jika dibandingkan, Bahasa Sunda dan Bahasa Jepang cocok. Jika Bahasa Sunda diterjemahkan ke Bahasa Jepang, cocok sekali. Karena ada tingkatan bahasa,” ujar Moriyama.

“Rasa Bahasa Sunda dan Jepang itu mirip. Daripada Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Bahasa Sunda itu kaya, dan kekayaannya luar biasa. Juga terkait perasaan, rasa, atau bahasa hati, tidak bisa diungkapkan dalam Bahasa Indonesia,” tambah Moriyama.

Menariknya, perkembangan Bahasa Sunda sendiri ternyata telah ada sejak abad Masehi, tepatnya sebelum tahun 1600 M. Dalam sumber lainnya, meski tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, namun melalui bukti tertulis yang menjadi keterangan tertua, Bahasa Sunda berada pada prasasti dari abad ke-14.

Prasasti tersebut ditemukan di daerah Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan jika prasasti tersebut ada beberapa buah dan pembuatannya terjadi masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (sekitar tahun 1397-1475).

Barulah pada akhir abad ke-19, Bahasa Sunda mendapat pengaruh dari Bahasa Belanda pada kosakata maupun ejaan penulisannya, yang menggunakan aksara Latin.

Foto : Dok. KBRI Tokyo