Terungkap! Ini Biang Kerok Karhutla di Kaltara

Jakarta, GPriority.co.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan di Kaltara menjadi perhatian penting seluruh pihak. Apalagi, dampak yang ditimbulkan sangat merugikan, mulai dari kerugian ekonomi, kesehatan, hingga lingkungan. Lantas, sebenarnya apa yang menyebabkan Karhutla di Kaltara?

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Andi Amriampa mengungkapkan karhutla di Kaltara didominasi oleh musim kemarau ekstrem.

“Biasanya memang karena cuaca panas ya. Cuaca panas yang memang hutan ini atau gambut ini memang bisa tersuluk dengansendirinya,” kata Andi kepada GPriority di Jakarta, Rabu (13/3).

Namun, Andi menyebut, tak menutup kemungkinan, ada faktor lain yakni pembukaan lahan ugal-ugalan dengan cara dibakar. Dia mengaku masih menemukan kasus tersebut. “Memang ada beberapa kasus ya Pak,” ujarnya.

Pihaknya juga telah melakukan imbauan kepada masyarakat untuk tak membakar lahan gambut. Andi mengatakan, biasanya masyarakat menggunakan metode sekat bakar yang dianggap lebih aman karena apinya tidak menyebar.

Menurut Andi, metode sekat bakar juga menjadi salah satu langkah mitigasi mencegah karhutla menyebar. “Tujuannya untuk mengeliminasi terjadinya penyebaran perluasan area kebakaran hutan,” tuturnya.

Maka itu, sosialisasi tentang pencegahan dan penanganan karhutla juga terus dilakukan. Andi menyebut, masyarakat memiliki peran penting dalam hal ini.

“Jadi daerah-daerah yang memang rawan bencana, kita perdayakan masyarakat-masyarakat desa untuk memiliki keterampilan-keterampilan khusus, sesuai dengan karakteristik bencana yang ada di daerahnya, ya masyarakat-masyarakat desa,” katanya.

Disamping itu, dia juga mengimbau, perusahaan-perusahaan yang berada di lokasi-lokasi yang rawan bencana itu, untuk ikut berpartisipasi juga dalam rangka penanggulangan bencana yang ada di daerah tersebut.

Sebelumnya, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) masuk kedalam wilayah yang rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Wakil Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Ingkong Ala membeberkan sejumlah wilayah rawan karhutla yang didominasi lahan gambut.

Sejumlah wilayah tersebut antara lain, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Binai, Tanah Kuning, Mangkupadi, Kampung Baru. Yang paling rawan berada di Tanjung Palas Timur.

“Memang airnya juga cukup sulit ya, karena tidak semuanya di pinggir sungai. Cenderung gambut ini, daerah Gambut itu cenderungnya memang tidak ada aliran sungai dekat situ,” kata Ingkong.

Meski begitu, Ingkong mengungkapkan telah membentuk tim untuk mengantisipasi sekaligus mengatasi kebakaran hutan yang dibentuk sejak tahun 2017.Tim tersebut, terdiri dari seluruh dinas yang terkait termasuk BNPB, termasuk DLH, kehutanan, Polda, Polsek, Polres, TNI, dari Korem dan Koramil sampai ke bawah.

“Dan kolaborasi juga dengan masyarakat setempat. Juga perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar wilayah desa kebakaran itu sudah diminta wajib membantu, termasuk alat-alat pemadam mereka juga,” ucapnya.

Editor: Novita Intan

Foto: dml.or.id