Trio Kuda Rilis Album Perdana Bertajuk “Thrash Blues”

Trio Kuda, unit musik asal Jakarta rilis album perdana bertajuk "Thrash Blues". Foto: istimewa Trio Kuda, unit musik asal Jakarta rilis album perdana bertajuk "Thrash Blues". Foto: istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Trio Kuda, unit musik asal Jakarta yang dikenal dengan pendekatan ekstrem terhadap kesederhanaan dan eksplorasi lintas genre, merilis album penuh perdana bertajuk Thrash Blues pada Jumat (7/11) di bawah naungan label Blues One Records.

Album ini menjadi tonggak penting bagi perjalanan band yang digawangi oleh Anov Blues One, Reza Arfandy, dan Sastra Cipta Abyad. Ketiganya dikenal sebagai musisi yang menolak tunduk pada pakem industri musik konvensional.

Thrash Blues berisi tujuh lagu yang merupakan gabungan antara materi lama dan karya baru, yakni “Welcome”, “Sikat!”, “Killing Zone”, “Stay Alive”, “Satisfaction”, “Surga Atau Neraka”, dan “Setitik Cahaya”. Lagu “Setitik Cahaya” dipilih sebagai focus track andalan album.

Mengangkat tema besar tentang isu sosial dan perjuangan, album ini dikemas dalam aransemen yang menggabungkan elemen blues rock dan thrash metal klasik, menghasilkan gaya khas yang disebut Trio Kuda sebagai “Thrash Blues”.

Keunikan Trio Kuda tidak hanya terletak pada genre yang mereka usung, tetapi juga pada format band tanpa pemain bass. Anov Blues One memainkan gitar satu senar yang ia rakit sendiri dari gagang cangkul, dan menyebutnya “Gitar Cangkul” simbol semangat akar rumput serta perlawanan terhadap kemewahan.

Reza Arfandy mengisi posisi vokal sekaligus memainkan instrumen yang memadukan rhythm guitar dan bass, sementara Sastra Abyad mengandalkan drum pad sederhana yang dapat dimainkan di berbagai tempat.

Proses rekaman album ini dilakukan dengan pendekatan praktis dan cepat menggunakan perangkat mobile di berbagai lokasi, mencerminkan filosofi root blues yang menonjolkan kejujuran dan spontanitas.

Secara musikal, Trio Kuda terinspirasi oleh musisi blues rock seperti Buddy Guy, Stevie Ray Vaughan, dan The White Stripes, serta band thrash metal seperti Motorhead, Megadeth, dan Anthrax. Perpaduan pengaruh tersebut menghasilkan musik keras, mentah, dan penuh energi, namun tetap sarat emosi dan kritik sosial.

Sebelum merilis Thrash Blues, Trio Kuda telah memperkenalkan diri lewat satu EP dan beberapa single. Lagu “Sikat!” dan “Stay Alive” sempat dirilis lebih dulu dan mendapat respons positif dari komunitas musik independen. Sementara “Setitik Cahaya” sebelumnya pernah dirilis oleh Reza Arfandy dan Anov Blues One melalui proyek kolaborasi sebelum membentuk Trio Kuda bersama Sastra.

“Album ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang sikap. Trio Kuda menolak tunduk pada standar industri, memilih jalan yang lebih jujur dan yaa, bisa dibilang berani,” ujar Reza Arfandy.

Sementara itu, Anov Blues One menambahkan, “Dengan album Thrash Blues, kami dengan lantang mengukuhkan diri sebagai salah satu suara paling liar dan otentik dari skena musik alternatif Indonesia saat ini.”

Bagi penikmat musik yang mencari sesuatu yang berbeda, mentah, dan penuh semangat, Thrash Blues menjadi ajakan untuk menyelami dunia Trio Kuda dunia di mana gitar cangkul bisa mengaum dan musik menjadi alat perlawanan.