Unggah Video Serangan ke Lebanon, Netanyahu Beri Kode Gempuran Masih Berlanjut

Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu unggah video serangan ke Lebanon/Foto : Dok. Istimewa Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu unggah video serangan ke Lebanon/Foto : Dok. Istimewa

Israel, GPriority.co.id – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan sikap negaranya terkait operasi militer di Lebanon.

Melalui unggahan di akun X pada Rabu (29/4) lalu, Netanyahu menulis singkat, “Lebanon — continuing,” atau dalam terjemahan bahasa Indonesia, “Lebanon — berlanjut.”

Pernyataan ini mempertegas bahwa operasi Israel di wilayah tersebut belum akan dihentikan dalam waktu dekat.

Sikap tersebut sejalan dengan pernyataan sebelumnya yang disampaikan Netanyahu kepada media internasional, Anadolu Agency. Ia menegaskan bahwa Israel memiliki tujuan strategis yang belum tercapai, terutama dalam hal keamanan di wilayah utara negaranya.

Netanyahu menyatakan bahwa Israel ingin “mengubah situasi di utara,” yang dalam konteks ini merujuk pada kondisi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon. Ia juga menegaskan bahwa operasi militer akan terus dilakukan hingga tujuan tersebut tercapai.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah Israel melihat ancaman dari wilayah Lebanon masih signifikan, khususnya terkait aktivitas kelompok bersenjata.

Salah satu fokus utama Israel dalam konflik ini adalah kelompok Hezbollah yang berbasis di Lebanon selatan. Israel secara konsisten menuntut pelucutan senjata Hezbollah sebagai bagian dari kesepakatan keamanan yang lebih luas.

Bagi Israel, keberadaan persenjataan kelompok tersebut dianggap sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kawasan.

Di sisi lain, situasi di lapangan semakin kompleks karena sebelumnya telah diumumkan gencatan senjata selama 10 hari. Kesepakatan tersebut diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump sebagai upaya meredakan ketegangan yang meningkat antara kedua pihak.

Namun, gencatan senjata itu tidak berjalan mulus. Pemerintah Lebanon melaporkan adanya pelanggaran oleh pasukan Israel selama periode tersebut. Hal ini semakin memperburuk kepercayaan antara kedua pihak dan menambah ketidakpastian terhadap masa depan stabilitas kawasan.

Menurut laporan dari Reuters dan Al Jazeera, situasi di perbatasan Israel-Lebanon memang telah lama menjadi titik panas konflik regional. Ketegangan yang melibatkan Israel dan Hezbollah kerap meluas dan berpotensi menyeret aktor lain di kawasan.

Keputusan Israel untuk melanjutkan operasi militernya memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas. Lebanon, sebagai negara yang menjadi lokasi operasi, berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi tekanan militer sekaligus menjaga stabilitas domestik.

Sementara itu, keterlibatan aktor regional seperti Iran yang dikenal memiliki hubungan dengan Hezbollah, serta dukungan politik dari Amerika Serikat kepada Israel, membuat konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

Dalam konteks ini, pernyataan Netanyahu menjadi sinyal bahwa Israel masih membuka ruang untuk tindakan militer demi menjaga kepentingan keamanannya.

Namun, langkah tersebut juga berisiko memperpanjang konflik dan memperburuk hubungan dengan Lebanon serta negara-negara lain di kawasan.