Jakarta, GPriority.co.id – Jumlah korban meninggal dunia akibat ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo terus bertambah. Terbaru, Basarnas mencatat total korban meninggal telah mencapai 66 jiwa, dua di antaranya berupa bagian tubuh (body part).
Menanggapi hal tersebut, CEO dan Founder Santri Motivator School, Ustaz Asroni Al Paroya, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya para santri Ponpes Al Khoziny.
“Semoga Allah SWT menerima mereka dalam keadaan husnul khātimah dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya,” kata Asroni kepada GPriority, Selasa (7/10).
Menurutnya, dalam pandangan Islam, santri yang wafat saat menuntut ilmu dan berada di lingkungan pesantren termasuk dalam kategori syahid dalam makna ukhrawi, bukan syahid dalam makna fī sabīlillāh di medan perang.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ
“Barang siapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR. Tirmidzi, no. 2647)
“Hadis ini menunjukkan bahwa setiap langkah penuntut ilmu memiliki kedudukan mulia di sisi Allah, setara dengan perjuangan di jalan Allah,” ucapnya.
Asroni menambahkan, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa salah satu golongan syahid adalah mereka yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan (shāhibul hadm).
الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُونُ، وَالْمَبْطُونُ، وَالْغَرِقُ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Ada lima macam orang yang mati syahid: orang yang mati karena wabah (tha’un), karena sakit perut, karena tenggelam, karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang mati di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829; Muslim, no. 1914)
“Maka, para santri yang wafat tertimpa bangunan masuk dalam kategori “shāhibul hadm” (orang yang mati karena tertimpa reruntuhan), yang disebut Nabi sebagai syahid,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ustaz Asroni menjelaskan bahwa orang yang meninggal syahid akan mendapatkan ampunan dan kemuliaan di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ
“Tidak ada seorang pun yang masuk surga ingin kembali ke dunia, kecuali orang yang mati syahid. Ia ingin kembali lalu mati syahid sepuluh kali, karena melihat besarnya kemuliaan yang diberikan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2817; Muslim, no. 1877)
“Maka, insya Allah para santri tersebut mendapat kemuliaan di sisi Allah, diampuni dosanya, dan diberikan kedudukan tinggi di surga,” ucap Ustaz Asroni.
Ustaz Asroni berharap peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk semakin mencintai ilmu, menghargai perjuangan para santri, dan memperhatikan keselamatan di lingkungan pesantren.
“Semoga kejadian serupa tidak terjadi lagi di pesantren pesantren yang lain,” pungkasnya.
Pewarta : Fifi Abdurahman
