Israel, GPriority.co.id – Sebuah video yang memperlihatkan keluarga dan tentara Israel menyaksikan tayangan penghancuran desa-desa di Lebanon selatan viral di media sosial dan memicu kecaman luas dari publik internasional.
Dalam rekaman tersebut, sejumlah orang terlihat bersorak sambil menonton ledakan rumah-rumah warga Lebanon yang diputar melalui layar besar dalam sebuah acara terbuka.
Video itu ramai dibagikan di berbagai platform media sosial dan langsung menuai reaksi keras karena dianggap tidak menunjukkan empati terhadap penderitaan warga sipil di tengah konflik yang masih berlangsung antara Israel dan Lebanon.
Banyak netizen menyebut adegan tersebut sebagai bentuk glorifikasi kekerasan yang tidak pantas dipertontonkan di ruang publik.
Ketegangan di kawasan perbatasan Israel-Lebanon memang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Bentrokan antara militer Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan menyebabkan banyak wilayah mengalami kerusakan parah, termasuk rumah warga, fasilitas umum, dan infrastruktur sipil.
Laporan sejumlah media internasional menyebut ribuan warga Lebanon terpaksa mengungsi akibat serangan lintas perbatasan yang terus terjadi.
Dalam video yang viral tersebut, suasana acara terlihat menyerupai kegiatan hiburan terbuka. Beberapa penonton tampak membawa anak-anak sambil menyaksikan tayangan ledakan yang terjadi di wilayah Lebanon selatan.
Sorakan dan tepuk tangan terdengar ketika bangunan-bangunan dihancurkan dalam rekaman yang diputar di layar raksasa.
Banyak pengguna media sosial mengecam tindakan tersebut karena dinilai mengabaikan sisi kemanusiaan dari konflik bersenjata. Sejumlah aktivis hak asasi manusia juga menilai tontonan seperti itu dapat memperburuk kebencian dan memperdalam trauma masyarakat yang terdampak perang.
Konflik antara Israel dan Lebanon kembali memanas sejak meningkatnya ketegangan regional di Timur Tengah. Wilayah Lebanon selatan menjadi salah satu area yang paling terdampak akibat serangan udara dan baku tembak lintas batas yang terus terjadi.
Menurut laporan Al Jazeera, kerusakan besar di wilayah sipil telah memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
