Jakarta, GPriority.co.id – Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) RI, Helvi Moraza menyatakan komitmen pemerintah dalam menumbuhkan bakat wirausaha baru, memperluas peluang akses modal dan pasar, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi di Indonesia.
Hanya saja, dia mengaku, pemerintah mendapatkan berbagai kendala di lapangan ketika ingin melaksanakan komitmen tersebut.
Adapun kendalanya, seperti banyak pelaku usaha yang tidak lagi bankable akibat dampak geopolitik, hingga kegagalan usaha.
“Sehingga mereka bangkrut, mereka tidak bankable lagi. Padahal diantara mereka itu paling sedihnya adalah mereka berusaha hanya untuk bertahan hidup,” kata Helvi dalam acara Kick Off Entrepreneur Hub Innovative Financing 2025 di Manhattan Hotel Jakarta, Rabu (20/8).
Selain itu, tutur Helvi, ditemukan juga bahwa banyak masyarakat yang lebih memilih pembiayaan berbasis syariah.
Kemudian, tantangan lain adalah sulitnya top up modal karena aturan perbankan yang ketat, padahal kontrak-kontrak bisnis memungkinkan dukungan tambahan.
Adapun hambatan terakhir yakni soal masalah literasi keuangan. Menurut dia, literasi keungan bagi wirausaha di Indonesia masih tergolong rendah.
Helvi menilai, tidak mungkin pengusaha mikro bisa naik kelas tanpa menguasai dan melaksanakan literasi keuangan.
“Nah kemudian ada situasi dimana ketika menaikkelaskan dari mikro ke kecil itu sudah masuk sektor komersial, yang mana mungkin ada sedikit pelonggaran di pembiayaan non-konvensional, sementara di perbankan jelas itu ada aturannya dan itu sangat ketat. Nah ini hal-hal yang selama ini kami rasakan menghambat,” tuturnya.
Atas dasar itu, Kementerian UMKM mengadakan Entrepreneur Hub Innovative Financing 2025 selama dua bulan, yang dimulai pada Rabu (20/8) di Manhattan Hotel Jakarta,
Pewarta : Fifi Abdurahman
