150 Pesawat Militer AS Ada di Dekat Teheran, Pertanda AS Siap Serang Iran?

Ilustrasi pesawat militer AS/Foto : Dok. AFP Ilustrasi pesawat militer AS/Foto : Dok. AFP

Iran, GPriority.co.id – Di tengah ketegangan diplomatik terkait program nuklir Teheran, AS dilaporkan telah memindahkan lebih dari 150 pesawat militer ke pangkalan di Eropa dan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan citra satelit dan data pelacakan penerbangan yang ditinjau oleh The Washington Post, penambahan tersebut mencakup pesawat kargo, pesawat pengisian bahan bakar, dan jet tempur, dan menandai salah satu pengerahan pasukan AS terbesar di kawasan itu dalam lebih dari dua dekade.

Surat kabar tersebut menambahkan bahwa kapal induk USS Gerald R. Ford berada di dekat Kreta, bergabung dengan USS Abraham Lincoln.

Sementara itu, The Times of Israel melaporkan bahwa militer AS telah mulai memindahkan 12 jet tempur siluman F-22 menuju Timur Tengah.

Laporan tersebut mengatakan bahwa F-22 terlihat lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Lakenheath di Inggris dan bergabung dengan pesawat pengisian bahan bakar KC-46 saat mereka menuju ke wilayah tersebut. Beberapa jet tempur, termasuk F-35, F-22, F-15, dan F-16, terlihat menuju ke wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir, menurut Military Air Tracking Alliance.

Di tengah suasana ini, wakil menteri luar negeri Iran mengatakan Teheran siap mengambil langkah apa pun yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan AS dan berharap Washington menunjukkan kemauan yang sama. Majid Takht-Ravanchi menambahkan bahwa serangan AS terhadap Iran akan menjadi “pertaruhan yang nyata.”

Di lain sisi, seorang diplomat Iran mengatakan bahwa Republik Islam harus sepenuhnya siap untuk perang jika ingin menghindari perang.

Saat Teheran bersiap untuk putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat di Jenewa pada hari Kamis (26/2), mantan juru bicara Kementerian Luar Negeri Ramin Mehmanparast mengatakan Teheran sepenuhnya siap untuk kesepakatan yang adil dan saling menghormati dan bahwa “bola ada di tangan Amerika,” tetapi menolak gagasan bahwa ancaman militer dapat menghasilkan konsesi.

“Jika kita ingin perang tidak terjadi, kita harus siap 100 persen untuk perang,” katanya, seraya menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran berada pada tingkat kesiapan tertinggi.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa (24/2) bahwa Presiden AS Donald Trump lebih memilih diplomasi sebagai pilihan pertama dalam menghadapi Iran, tetapi siap menggunakan kekuatan mematikan jika diperlukan.