Indeks Keberagamaan Mahasiswa Nasional Sangat Tinggi, Kristen Teratas Disusul Islam

Indeks Keberagamaan Mahasiswa (IKM) secara nasional berada pada kategori 'Sangat Tinggi.'/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Indeks Keberagamaan Mahasiswa (IKM) secara nasional berada pada kategori ‘Sangat Tinggi.’ Dimana, mahasiswa beragama Kristen menempati urutan pertama dengan skor nasional 89,75, disusul mahasiswa beragama Islam di peringkat kedua dengan skor 88,40, dan mahasiswa beragama Katolik di urutan ketiga dengan skor 88,27.

Hasil tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama (Kemenag), yang dirilis Kamis (8/1).

Survei ini mencakup dua kelompok, yakni Indeks Keberagamaan Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (IKM PTKI) serta IKM Non-PTKI yang meliputi mahasiswa beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan BMBPSDM, Rohmat Mulyana Sapdi, menjelaskan bahwa secara nasional IKM PTKI meraih predikat ‘Sangat Tinggi’ dengan skor 88,40. Dimensi ideologis mencatat nilai tertinggi sebesar 94,15, disusul dimensi pengalaman spiritual 94,09, perilaku 88,88, intelektual 85,68, dan dimensi ritualistik sebagai nilai terendah dengan skor 82,88.

“Secara nasional, IKM PTKI meraih predikat ‘Sangat Tinggi’ dengan skor 88,40,” kata Rohmat dalam keterangannya, dikutip dari situs Kemenag, Kamis (15/1).

Sementara itu, hasil survei IKM Non-PTKI juga menunjukkan kategori ‘Sangat Tinggi.’ Mahasiswa Kristen memperoleh skor nasional 89,75, dengan dimensi ideologis 93,99, ritualistik 84,91, pengalaman spiritual 92,40, intelektual 88,53, dan perilaku 89,27.

Mahasiswa Katolik mencatat skor nasional 88,27, dengan dimensi ideologis 91,74, ritualistik 80,92, pengalaman spiritual 91,68, intelektual 87,18, dan perilaku 89,25.

Adapun mahasiswa Hindu memperoleh skor nasional 82,54, dengan dimensi ideologis 88,92, ritualistik 72,21, pengalaman spiritual 86,26, intelektual 77,95, dan perilaku 87,07. Sementara mahasiswa Buddha mencatat skor nasional 82,56, dengan dimensi ideologis 88,95, ritualistik 72,19, pengalaman spiritual 86,28, intelektual 77,97, dan perilaku 87,10.

Menurut Rohmat, mahasiswa sebagai generasi muda intelektual memiliki peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk dalam menjaga kualitas keberagamaan sebagai bagian penting dari kehidupan individu.

Ia menilai perkembangan teknologi digital, termasuk kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menghadirkan tantangan tersendiri bagi keberagamaan generasi muda, khususnya mahasiswa. Pergeseran pola pencarian informasi keagamaan yang semakin mudah diakses perlu menjadi perhatian serius agar kualitas keberagamaan tetap terjaga.

“Ada hal yang dinamis dan diperbarui mengikuti perkembangan zaman, tapi di sisi lain agama juga ada ultimate meaning-nya, ada sesuatu yang harus dikonservasi, harus dipelihara oleh kita. Jadi ada nilai-nilai yang sebenarnya itu mutlak dan tidak bisa diubah,” ucapnya.

Lebih lanjut, Rohmat menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan agar pendidikan agama di Indonesia terus berjalan dalam koridor yang berkualitas.

“Kita harus tetap mengedepankan bahwa pendidikan agama ini suatu hal yang sangat esensial dan upaya-upaya untuk melakukan perbaikan pendidikan agama harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan seluruh pihak,” pungkas Rohmat.