Jakarta, GPriority.co.id – Nasi merupakan bahan pokok utama bagi masyarakat Indonesia. Meski demikian, tidak sedikit masyarakat yang mulai mengurangi bahkan menghindari konsumsi nasi karena dianggap dapat memicu kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko diabetes.
Menghindari nasi pun kerap dijadikan pilihan untuk menjaga berat badan dan kadar gula darah tetap stabil.
Sebagai gantinya, sebagian masyarakat memilih mengonsumsi roti, termasuk roti dengan kandungan pemanis.
Lantas, benarkah tidak mengonsumsi nasi dan menggantinya dengan roti dapat membuat seseorang terhindar dari diabetes?
Dokter Gizi RS Cipto Mangunkusumo, Steffi Sonia, membenarkan bahwa banyak pasiennya menghindari nasi karena khawatir terkena diabetes. Namun, menurutnya, mereka justru mengganti nasi dengan makanan lain seperti dimsum, roti, biskuit, hingga makanan manis. Padahal, seluruh makanan tersebut sama-sama mengandung karbohidrat.
“Karena kan karbohidrat itu bentuknya macam-macam, tidak hanya nasi. Kenapa sih nasi yang disalahin? Kalau mau disalahin, salahin semuanya gitu. Jadi harusnya tidak pilih kasih. Kalau kita bicara mau mencegah naiknya gula darah, ya semua karbohidrat harus dipertimbangkan,” kata Dokter Steffi.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk Gen Z & Diabetes: Hidup Santai, Sugar Rush Jangan Kebablasan, yang disiarkan secara langsung melalui Instagram Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kamis (15/1).
Karena itu, Steffi mendorong masyarakat agar lebih cerdas dan kritis dalam memahami ilmu gizi, tidak hanya mengikuti informasi yang sedang viral.
“Jadi harus belajar masalah gizi yang umum-umum sajalah gitu, masyarakat tidak hanya baca apa yang viral-viral gitu ya, tapi kita juga mencerdaskan diri kalau misalnya saya mau mencegah penyakit ini, misalnya harus menghindari atau mengurangi asupan karbohidrat, harus dibaca dulu, apa aja yang masuk ke dalam karbohidrat. Jadi dari situ kita akan belajar bahwa memang sumber karbohidrat tidak hanya nasi,” pungkasnya.
