Jakarta, GPriority.co.id – Praktisi kesehatan masyarakat sekaligus Kepala Seksi Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Tamansari, dr Ngabila Salama mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 2026.
Menurutnya, menjelang Iduladha, risiko kesehatan masyarakat dapat meningkat signifikan apabila hewan kurban diperjualbelikan tanpa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
SKKH menjadi bukti bahwa hewan telah diperiksa oleh dokter hewan atau petugas berwenang, baik dari aspek kesehatan, kelayakan konsumsi, maupun bebas dari penyakit menular tertentu.
Ia menilai, tanpa pemeriksaan tersebut, ada potensi hewan sakit tetap masuk ke pasar dan berisiko menularkan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, seperti Antraks, Brucellosis, maupun Penyakit Mulut dan Kuku dalam kondisi tertentu. Selain itu, distribusi hewan tanpa pengawasan juga dapat mempercepat penyebaran penyakit antarwilayah.
“Masyarakat perlu waspada terhadap beberapa ciri hewan kurban yang tidak layak atau berpotensi tidak sehat. Misalnya hewan terlihat lemas, nafsu makan menurun, demam, batuk terus-menerus, keluar cairan berlebihan dari hidung atau mata, diare, luka pada mulut atau kaki, pincang, bulu kusam, tubuh sangat kurus, serta adanya benjolan atau luka bernanah,” kata dr Ngabila kepada GPriority, Sabtu (9/5).
Dari sisi syariat dan kesehatan, lanjut dia, hewan juga sebaiknya tidak cacat berat, tidak buta, tidak terlalu kurus, dan cukup umur. Hewan yang sehat umumnya aktif, matanya cerah, bulu bersih, nafsu makan baik, serta pergerakannya normal.
Lebih lanjut, dr Ngabila mengatakan efektivitas pengawasan pemerintah daerah sangat menentukan keamanan hewan kurban di masyarakat. Saat ini, banyak daerah sudah melakukan pemeriksaan kesehatan hewan secara aktif melalui dinas peternakan, membuka pos pemeriksaan, hingga turun langsung ke lapak penjualan.
Namun, tantangannya adalah tingginya mobilitas hewan menjelang Iduladha, meningkatnya jumlah lapak dadakan, serta keterbatasan jumlah petugas di lapangan.
Karena itu, pengawasan akan lebih efektif apabila disertai kepatuhan pedagang dalam melengkapi SKKH dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk membeli hewan dari penjual resmi dan sehat.
“Jadi pengawasan pemerintah penting, tetapi partisipasi masyarakat juga menjadi kunci utama menjaga keamanan pangan dan kesehatan bersama saat Iduladha,” pungkasnya.
