Bandung Barat, GPriority.co.id – Setelah bencana Sumatera, mata publik kini tertuju pada peristiwa longsor Bandung Barat yang terjadi pada Sabtu (24/1) dini hari di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Menurut data yang dilansir dari BNPB, per 25 Januari 2026 (pukul 16.35 WIB), tercatat 25 kantong jenazah yang berhasil dievakuasi dimana 17 diantaranya berhasil dievakuasi, 105 laporan orang hilang, hingga 30 rumah yang terdampak.
Adapun bencana longsor Bandung Barat ini dipicu oleh curah hujan tinggi di kawasan Cisarua dan sekitarnya, sehingga menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, serta terjadinya kegagalan lereng.
Selain faktor hujan, gerakan tanah di Pasirlangu juga dipengaruhi kondisi geologi setempat yang didominasi batuan gunung api tua yang telah lapuk, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan rekahan dan sesar geologi.
Sementara itu, menurut Pakar Geologi ITB, Imam Achmad Sadisun, longsor di kawasan Cisarua dipicu oleh jebolnya bendungan alami di hulu sungai yang berpotensi terulang kembali.
Peristiwa tersebut merupakan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang jauh lebih destruktif daripada pergerakan tanah lokal.
Imam berpendapat, penyebab utama kejadian longsor Bandung Barat ialah terbentuknya sumbatan atau landslide dam pada hulu lereng selatan Gunung Burangrang. Di mana, material longsor menutup alur sungai, menahan volume air hingga jenuh, lalu jebol seketika membawa muatan lumpur, pasir, hingga bongkah batu dengan kecepatan tinggi.
“Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai,” jelasnya sebagaimana dikutip dari ANTARA pada Selasa (27/1).
Sementara itu, terkait bantuan, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan jika Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) telah menyiapkan santunan sebesar Rp25 juta bagi setiap keluarga korban yang meninggal dunia akibat longsor.
Selain santunan duka, pemerintah daerah juga menyiapkan bantuan uang kontrakan sebesar Rp1,3 miliar guna membantu warga yang rumahnya terdampak longsor. Setiap kepala keluarga akan menerima Rp10 juta sebagai bekal hidup sementara waktu.
“Daripada menumpuk di sini, lebih baik cari kontrakan. Setiap kepala keluarga kami siapkan Rp10 juta untuk bekal hidupnya. Jadi, tidak lagi ada numpuk orang di sini, tidur di sini,” ujar pria yang akrab disapa KDM tersebut.
