Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, berencana menyatukan metode penetapan awal Ramadan antara pemerintah dan Muhammadiyah.
Sebagai langkah awal, ia akan menemui seluruh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam serta para ahli untuk mendengarkan pandangan masing-masing terkait wacana tersebut.
“Saya kira pertama kali selaku menteri agama akan menjadi pendengar aktif dulu kepada seluruh ormas yang ada. Dan, kita akan mendatangi, mendengarkan secara aktif, dan dengan demikian kita nanti juga akan punya konsep-konsep, dan kita juga akan mendengarkan para pakar dalam bidangnya masing-masing,” ujar Nasaruddin saat konferensi pers sidang isbat di Jakarta, Selasa (17/2).
Ia optimistis ke depan seluruh pihak dapat menyatukan pandangan terkait penetapan 1 Ramadan atau awal ibadah puasa.
Nasaruddin juga menyinggung bahwa pada awal masa kemerdekaan, penetapan 1 Ramadan dilakukan secara kompak.
“Indonesia merdeka itu selalu kompak. Kenapa belakangan ini ada perbedaan? Nah ini yang perlu kita carikan titik temunya. Dan insyaallah selaku menteri agama, saya akan sowan kepada tokoh-tokoh yang memiliki otoritas untuk membicarakan hal ini,” jelas Nasaruddin.
Sebagai informasi, pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan pada Rabu, 18 Februari 2026.
Perbedaan penetapan awal puasa antara pemerintah dan Muhammadiyah ini hampir terjadi setiap tahun.
